Berita7.co.id — Gunung Anak Krakatau berada pada status Level III atau Siaga dan tercatat masih mengalami aktivitas erupsi yang bersifat fluktuatif. Meski demikian, ahli dari Bandung menyatakan potensi terjadinya tsunami seperti pada 2018 tergolong kecil.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, mengatakan kondisi saat ini berbeda dengan peristiwa 2018 yang disebabkan longsoran besar sehingga mengurangi ketinggian gunung secara signifikan.
“Kalau kemarin sih dari ahli yang di Bandung katanya sih untuk potensinya kan beda sama waktu 2018 ya. Tahun 2018 kan ketinggiannya 330 sekianlah. Sekarang kan 157. Jadi kalau untuk ancaman potensi tsunaminya, kata yang di Bandung, tidak seperti yang 2018,” ujar Anggi pada Kamis (9/7/2026).
Anggi menegaskan penilaian ahli Bandung bahwa potensi tsunami saat ini kecil. Ia menambahkan aktivitas letusan berfluktuasi; beberapa kali terjadi letusan dalam satu periode pengamatan.
“Iya (potensinya kecil), menurut ahli yang di Bandung,” kata Anggi. Ia juga menyampaikan bahwa untuk hari ini belum tercatat letusan, sedangkan pada hari sebelumnya tercatat tujuh kali letusan.
Area larangan bagi masyarakat tetap ditetapkan pada radius tiga kilometer dari kawah aktif. Ketentuan ini berdasarkan rekomendasi resmi PVMBG dan saat ini sebagian radius tersebut berada di wilayah laut.
Respons Pemerintah Provinsi Banten
Pemerintah Provinsi Banten menyatakan terus memantau perkembangan erupsi di Selat Sunda dan menempatkan potensi tsunami sebagai fokus utama mitigasi. Keberadaan atau tidaknya ancaman tsunami akan menentukan langkah evakuasi bagi warga.
Pejabat BPBD menyatakan, jika ada informasi potensi tsunami, masyarakat diperkirakan memiliki waktu sekitar 40 menit untuk melakukan evakuasi ke daerah aman.
“Dari letusan gunung ada waktu 40 menit. Jadi ketika meletus dan ada potensi tsunami, ada waktu 40 menit. Kalau masyarakat tak paham, mereka santai aja. Jadi kalau sudah surut nih, jangan diem-diem aja,” ujar Lutfi, yang menyebut pihaknya terus mengikuti informasi dari PVMBG.
Lutfi menambahkan BPBD telah melakukan pelatihan kepada Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) untuk membantu proses evakuasi. Ia meminta masyarakat tidak panik dan mengenali jalur serta titik kumpul evakuasi yang telah disediakan.
“Jangan panik, jangan takut. Kedua, yang penting kalau berada di wilayah bencana, kenali jalur evakuasi yang sudah dipasang, ikuti jalur evakuasi, ikuti titik kumpul,” katanya.
Petugas dan pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan resmi dari PVMBG dan MAGMA Indonesia serta mematuhi larangan mendekati kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Ikuti Berita7.co.id
