Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bidang Riset dan Inovasi Daerah, Brian Yuliarto, ke Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (15/1/2025) malam. Pertemuan yang berlangsung kurang dari satu jam tersebut membahas percepatan hilirisasi industri mineral kritis, khususnya logam tanah jarang (rare earth).
Dorongan Percepatan Teknologi
Brian Yuliarto tiba di Istana Kepresidenan sekitar pukul 20.26 WIB. Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo ingin mendorong industri strategis di Indonesia, terutama dalam penguasaan teknologi untuk mengelola kandungan mineral kritis. “Jadi, Pak Presiden ingin mendorong industri strategis, terutama industri mineral kritis di Indonesia. Tadi saya mendapatkan arahan agar dipercepat,” ujar Brian.
Lebih lanjut, Brian menambahkan, “Teknologi segera dikuasai sehingga kandungan mineral kritis, rare earth salah satunya itu bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.”
Rapat tersebut turut dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa, serta perwakilan dari luar negeri. Fokus utama pembahasan adalah bagaimana Indonesia dapat mempercepat penguasaan teknologi untuk mengelola logam tanah jarang.
Aplikasi untuk Mobil Nasional dan Kendaraan Listrik
Brian Yuliarto, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Industri Mineral, mengungkapkan bahwa logam tanah jarang ini akan difokuskan untuk pembuatan mobil nasional. Meskipun aplikasi saat ini masih terbatas, Presiden Prabowo mendorong Danantara untuk menjajaki kerja sama teknologi dengan pihak luar.
“Mobnas tadi ya, beberapa. Tapi itu kan beberapa aplikasi rare earth juga untuk Mobnas. Jadi tadi Pak CTO, Pak Danantara diundang juga untuk membuat link bagaimana hilirisasi rare earth itu bisa segera diwujudkan kerja sama teknologi dengan luar negeri kalau memang kita belum menguasai,” jelas Brian.
Namun, Brian menegaskan bahwa Indonesia tetap menargetkan percepatan teknologi melalui riset dan pendalaman. “Tapi tentu kita ingin riset-riset di perdalaman sesegera mungkin sehingga kita bisa memiliki industri logam tanah jarang ini, hilirisasinya,” katanya.
Pengembangan logam tanah jarang dinilai krusial karena salah satu aplikasinya yang penting adalah neodymium-praseodymium (NdPr). Bahan ini merupakan komponen utama magnet permanen yang sangat dibutuhkan dalam industri kendaraan listrik.
“Salah satu aplikasinya. Karena di sana ada, misalnya, NDPR yaitu aplikasi untuk permanen magnet yang sangat dibutuhkan untuk kendaraan listrik,” tutur Brian.






