Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan Presiden Prabowo Subianto masih mempertimbangkan undangan rapat perdana Board of Peace yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Indonesia baru saja menerima undangan tersebut.
Undangan Telah Diterima, Keputusan Belum Final
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menjelaskan bahwa surat undangan telah diterima dan sedang dalam proses peninjauan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). “Sebagaimana disampaikan oleh Pak Mensesneg bahwa memang kita menerima undangan tersebut, tapi Bapak Presiden masih belum memutuskan, masih mempertimbangkan,” ujar Nabyl di Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026). Ia menambahkan, “Jadi surat undangannya sudah diterima, sudah dicek Pak Mensesneg, tapi belum diputuskan.”
Potensi Perwakilan dan Preferensi Tuan Rumah
Nabyl juga belum dapat memastikan apakah Presiden Prabowo dapat diwakili oleh delegasi lain dalam pertemuan tersebut. Keputusan mengenai perwakilan biasanya juga dipengaruhi oleh preferensi tuan rumah acara. “Itu selain kita yang menentukan, biasanya tuan rumah itu juga punya preferensi, tidak bisa diwakilkan atau nggak, seperti itu. (Undangan itu) Kepada kepala negara,” jelasnya.
Konfirmasi Awal dari Mensesneg
Sebelumnya, Mensesneg Prasetyo Hadi telah mengkonfirmasi penerimaan undangan rapat perdana Board of Peace. Pembentukan dewan ini merupakan inisiatif Presiden AS Donald Trump. Prasetyo Hadi menyatakan, “Ada (undangannya). Belum (tahu hadir atau nggak), nanti kita sampaikan kalau sudah ada kepastian,” kata Pras kepada wartawan pada Senin (9/2/2026).
Harapan Penandatanganan Tarif Dagang
Jika Presiden Prabowo memutuskan untuk hadir, Prasetyo Hadi berharap kegiatan ini dapat dimanfaatkan sekalian untuk penandatanganan tarif dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia. Saat ini, Indonesia masih menunggu jadwal pasti pelaksanaan kesepakatan tersebut. “Kita sih menghendaki dan ingin bisa dua-duanya,” harapnya.





