Berita7 — JAKARTA – Pemerintah terus berupaya memenuhi hak anak atas pendidikan yang layak dan lingkungan belajar berkualitas. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan komitmen ini dalam sebuah program talkshow televisi swasta nasional.
Dalam acara tersebut, Gus Ipul berdiskusi dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (MenPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Pakar Neurosains dr. Ryu Hasan, dan Tokoh Publik Pemerhati Anak Shahnaz Haque. Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam perlindungan anak.
“Dengan adanya kemajuan teknologi, tantangan-tantangan kita dalam rangka memberikan perlindungan, pendampingan, dan tadi juga kadang-kadang juga dibutuhkan rehabilitasi. Ini menjadi hal yang penting,” ujar Gus Ipul dalam keterangannya, Selasa (21/7/2026).
Mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto, penguatan keluarga menjadi prioritas utama pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda. Fokusnya adalah pada keluarga rentan, keluarga miskin, dan mereka yang belum sepenuhnya merasakan dampak pembangunan.
“Bagaimana kita mempersiapkan keluarga-keluarga rentan, di desil 1, desil 2, keluarga yang belum beruntung, keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan. Salah satu pekerjaan rumah besar bangsa kita hari ini adalah masalah ketimpangan,” jelasnya.
Dalam rangka Hari Anak Nasional, pemerintah ingin memastikan seluruh anak mendapatkan pendidikan berkualitas. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama mengingat berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini, seperti pergaulan bebas dan narkoba.
Perhatian khusus diberikan kepada keluarga-keluarga rentan atau ‘The Invisible People’ yang belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat hampir empat juta anak masih belum sekolah, tidak sekolah, putus sekolah, atau berpotensi putus sekolah.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah menjangkau mereka melalui penyelenggaraan Sekolah Rakyat. “Salah satunya adalah Sekolah Rakyat. Ini adalah sekolah berasrama, tidak ada tes akademik, tapi menjangkau anak tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah. Sehingga mereka ini diharapkan memperoleh pendidikan yang baik sehingga masa depannya lebih baik,” papar Gus Ipul.
Program ini diharapkan tidak hanya membantu siswa menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menjadikan mereka agen perubahan bagi keluarga dan lingkungan. Rata-rata lebih dari 65 persen orang tua siswa dari keluarga tidak mampu hanya lulusan sekolah dasar.
Gus Ipul menambahkan bahwa Sekolah Rakyat ini merupakan inisiatif yang diselenggarakan pertama kali di era Presiden Prabowo, melibatkan berbagai kementerian. Ia menekankan kejujuran dan keterbukaan pemerintah dalam mengakui persoalan yang ada, termasuk ketidaktepatan sasaran bantuan sosial serta masih banyaknya anak yang belum bersekolah atau terlindungi.
Ikuti Berita7
