Jakarta – Kasus seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya menjadi sorotan serius Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di DPR RI. Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menilai peristiwa tragis ini merupakan bukti nyata kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan perlindungan sosial.
Kemiskinan Struktural dan Dampak Psikologis
Selly Andriany Gantina menyatakan bahwa kemiskinan tidak hanya terbatas pada keterbatasan ekonomi, tetapi juga mencakup keruntuhan martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak. Ia menekankan bahwa dalam banyak keluarga miskin, anak-anak seringkali menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampak psikologis dan sosial dari kondisi tersebut.
“Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak,” ujar Selly kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, konstitusi telah mengatur hak anak untuk mendapatkan pendidikan, namun tragedi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada kelompok paling rentan.
Alarm Evaluasi Serius bagi Negara
Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi negara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. PDIP, sebagai partai penyeimbang, menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Selly berharap kasus serupa tidak terulang di masa depan.
“PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai penyeimbang yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depan, bahkan nyawa akibat kemiskinan dan kelalaian system,” tegas Selly.
Penguatan Program Perlindungan Sosial
Selly mendesak adanya penguatan dan integrasi program perlindungan sosial. Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya memberikan bantuan sesaat, melainkan harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah.
“Negara tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, tetapi harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah, melalui penguatan ekonomi, akses pendidikan yang utuh, dan pendampingan sosial berbasis kebutuhan nyata di lapangan, agar kemiskinan tidak terus diwariskan lintas generasi,” tutupnya.
Surat Terakhir Korban
Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV SD yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Surat yang ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa tersebut berisi ungkapan kekecewaan terhadap ibunya yang disebut pelit, serta ucapan perpisahan.






