Jakarta – Potensi serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran disebut-sebut semakin menguat, dengan kemungkinan pelaksanaannya pada akhir pekan ini jika Presiden Donald Trump memberikan perintah. Terkait hal ini, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, memprediksi ada dua skenario yang mungkin terjadi.
Dua Kemungkinan Serangan AS ke Iran
Hikmahanto menjelaskan bahwa hingga saat ini, masih ada dua kemungkinan terkait rencana serangan AS terhadap Iran. “Sampai detik ini menurut saya masih ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, serangan ditunda karena kalau disebutkan Sabtu akan diserang itu sebagai gertakan Trump agar Iran segera menyepakati apa yANg dinegosiasi antara AS dengan Iran,” kata Hikmahanto kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, AS mungkin menganggap Iran sengaja mengulur-ulur waktu untuk mencapai kesepakatan. “Mungkin AS menganggap Iran mengulur-ulur untuk sampai pada kesepakatan,” tambahnya.
Sementara itu, kemungkinan kedua adalah Trump benar-benar akan memerintahkan serangan. Hikmahanto menyoroti adanya pesawat militer Rusia yang dilaporkan telah berada di Iran dan siap membalas serangan AS. “Kemungkinan kedua memang Trump akan lakukan serangan. Bila ini terjadi, Iran sudah menyiapkan diri. Bahkan sejumlah pesawat militer Rusia sudag datang ke Iran. Sepertinya Rusia akan mendukung Iran,” katanya.
Jika skenario kedua terjadi, perang berpotensi meluas. “Bukannya tidak mungkin Iran akan menyerang Israel karena tahu kelemahan AS ada di Israel,” tambahnya.
Ancaman Trump dan Respons Iran
Hikmahanto juga mengaitkan kemungkinan penundaan serangan dengan citra Trump sendiri. “Kalau kemungkinan pertama maka ini menjadi pukulan pada Trump. Karena di AS Trump disebut sebagai TACO atau Trump Always Chicken Out (Trump akan Takut dengan Keputusannya),” katanya.
Sebelumnya, pengerahan militer AS secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah, yang meliputi kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisi bahan bakar, dinilai telah meletakkan dasar bagi potensi serangan berkelanjutan terhadap Iran, jika Presiden Donald Trump memberi perintah. Trump, yang pernah memerintahkan serangan terhadap Iran tahun lalu, telah berulang kali mengancam Teheran dengan tindakan militer jika perundingan yang sedang berlangsung tidak mencapai kesepakatan pengganti untuk perjanjian nuklir yang dibatalkan AS pada 2018.
Laporan media-media terkemuka AS, seperti CNN dan CBS, seperti dilansir AFP pada Kamis (19/2/2026), menyebutkan bahwa militer AS akan siap melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat pada akhir pekan ini, meskipun Trump belum membuat keputusan akhir. Sejumlah sumber yang dikutip CNN menginformasikan bahwa Gedung Putih telah diberi pengarahan bahwa militer dapat siap melancarkan serangan pada akhir pekan, menyusul peningkatan signifikan dalam pengerahan aset angkatan udara dan angkatan laut di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.





