Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, mengungkapkan bahwa sejumlah jembatan penghubung antar desa dan kecamatan di wilayahnya masih dalam kondisi rusak pascabencana banjir dan longsor. Ia menyatakan bahwa perbaikan yang telah dilakukan baru menyentuh jalan nasional, sementara jembatan-jembatan di tingkat kecamatan dan antar desa belum tersentuh.
Kondisi Jembatan dan Aktivitas Warga
“Bahwa di Aceh jembatan yang perlu kita benahi. Karena yang sudah benahi adalah sekarang jembatan yang melalui nasional. Jalan nasional itu sudah 60 persen teratasi. Sedangkan jembatan-jembatan di melalui kecamatan, antar kecamatan, antar desa ini masih belum tersentuh,” ujar Mualem dalam rapat koordinasi satgas di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026).
Akibatnya, di beberapa kabupaten seperti Aceh Timur dan Aceh Utara, warga terpaksa menggunakan rakit untuk beraktivitas sehari-hari, termasuk untuk pergi ke sekolah.
“Jadi ada beberapa kabupaten di Aceh, yaitu Aceh Timur dan juga Aceh Utara masih menggunakan rakit, Pak. Dan ada sekolah naik rakit pergi sekolah, pergi apa, pergi semuanya,” jelas Mualem.
Dampak Bencana pada Sektor Pertanian dan Kelautan
Selain kerusakan infrastruktur, Mualem juga melaporkan dampak bencana terhadap sektor pertanian. Sekitar 50 ribu hektar sawah di Aceh dilaporkan masih tergenang lumpur akibat bencana.
“Jadi kalau ini tidak kita benahi, sudah pasti angka pencarian, angka kemiskinan akan menambah,” katanya, menekankan urgensi penanganan.
Dalam kesempatan yang sama, Mualem juga mengajukan permohonan bantuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ia menyoroti masalah sedimentasi yang mengganggu aktivitas nelayan di Aceh.
“Kemudian saya ingin sampaikan juga kepada Bapak Menteri KKP, sebagaimana persoalannya di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Karena di Aceh ada 6 juta penduduk, 25 persen penduduk Aceh berpencaharian ke laut. Jadi sedimentasi yang ada di muara ataupun di kuala ini bermasalah kali, Pak,” tuturnya.





