Berita7 — Jakarta — Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI, Budi Muliawan, mengajak pelajar generasi Z menjadi garda terdepan melawan hoaks di era digital. Ajakan itu disampaikan saat ia menjadi narasumber pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas, Selasa (14/7), di Aula Serbaguna Hj. Siti Marsiyam Mardjani, Jakarta.
Kegiatan dihadiri Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Al Islam Bahrul Ulum Ciracas Harimurti, Kepala SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas Tati Ferawati, dan Wakil Kepala Sekolah Muhammad Alhabib Yusron.
Dalam paparan bertajuk “Membangun Karakter Kebangsaan di Era Digital”, Budi menyatakan generasi Z lahir dan tumbuh bersama perkembangan internet sehingga menghadapi tantangan berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Oleh sebab itu, setiap informasi yang diterima harus disaring dan diverifikasi sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.
Perang Melawan Hoaks dan Tantangan AI
Budi mengatakan tantangan generasi muda saat ini bukan lagi perang fisik, melainkan perang melawan hoaks, disinformasi, manipulasi informasi, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi setiap pelajar.
“Karakter kebangsaan tidak cukup dipelajari di dalam kelas, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial. Salah satu bentuk bela negara di era digital adalah tidak mudah percaya pada hoaks dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).
Algoritma, Filter Bubble, dan Etika Digital
Budi mengingatkan algoritma media sosial dapat membentuk cara pandang seseorang karena terus menyajikan konten yang sesuai dengan kebiasaan penggunanya. Kondisi itu berpotensi menciptakan filter bubble atau gelembung informasi yang membuat seseorang hanya menerima sudut pandang tertentu.
Untuk mengatasi hal itu, ia mendorong pelajar membiasakan diri berdiskusi secara terbuka, menghargai perbedaan pendapat, dan memperluas wawasan dari berbagai sumber informasi yang kredibel. Ia juga menekankan pentingnya etika digital dengan menghindari perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian, serta penyebaran konten negatif yang dapat merusak persatuan bangsa.
Sejarah, Empat Pilar, dan Cinta Tanah Air
Selain literasi digital, Budi mengajak siswa memahami sejarah perjuangan bangsa, mulai dari Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi fondasi penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kepercayaan diri sebagai generasi penerus bangsa.
Kepada peserta MPLS, Budi memperkenalkan Empat Pilar MPR RI: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menjelaskan penguatan nilai-nilai kebangsaan menjadi benteng agar generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan maupun upaya yang dapat memecah persatuan bangsa.
Pelajar juga didorong memanfaatkan teknologi digital secara positif dan produktif, baik untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan kreativitas, mempromosikan budaya Indonesia, maupun menyebarluaskan prestasi anak bangsa.
Pesan Penguatan Karakter
Di akhir paparan, Budi berpesan agar siswa terus membangun karakter melalui penguatan nilai-nilai agama, menghormati orang tua dan guru, serta aktif mengikuti kegiatan organisasi di lingkungan sekolah sebagai sarana membangun kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Dialog Interaktif dan Pertanyaan Pelajar
Sesi dialog berlangsung hangat dan interaktif. Pelajar mengajukan berbagai pertanyaan seputar kebebasan berekspresi di media sosial, ancaman radikalisme digital, hingga peran MPR RI dalam membuka ruang partisipasi bagi generasi muda.
Seorang siswi bernama Salwa, yang aktif menulis puisi bertema politik di media sosial, menanyakan apakah MPR RI menyediakan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi secara terbuka. Menanggapi itu, Budi mengapresiasi semangat literasi para pelajar dan menjelaskan MPR RI menyediakan berbagai kanal komunikasi, seperti situs web resmi, Instagram, YouTube, dan media sosial lainnya yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pelajar, untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab.
Ia juga mengundang para siswa berkunjung ke Gedung MPR RI guna mengenal lebih dekat lembaga negara tersebut dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia, termasuk perpustakaan MPR RI yang memiliki koleksi literatur kebangsaan dan konstitusi.
Pertanyaan mengenai ancaman radikalisme di ruang digital diajukan oleh siswa bernama Aufa. Menurut Budi, langkah paling penting untuk menangkal paham radikal adalah membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap setiap informasi serta tidak mudah terpengaruh narasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Ia menambahkan peran orang tua dan guru tetap sangat penting dalam mendampingi aktivitas digital anak, termasuk penggunaan media sosial maupun permainan daring (online game). Penguatan karakter dan nilai-nilai kebangsaan sejak dini menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, akhlak mulia, serta tanggung jawab sebagai warga negara.
Menutup kegiatan, Budi Muliawan berharap dialog kebangsaan bersama pelajar dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang kritis, berkarakter, cinta tanah air, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Ikuti Berita7
