Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa sekitar 25 desa dilaporkan hilang akibat bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Pemerintah saat ini masih berfokus pada upaya pemulihan geliat ekonomi di daerah-daerah yang terdampak parah.
Fokus Pemulihan di Aceh dan Sumatera Utara
Tito Karnavian memaparkan bahwa Pemerintah memprioritaskan tujuh titik di Aceh untuk program pemulihan. Salah satunya adalah Aceh Tamiang, di mana pemerintah daerahnya belum dapat beroperasi sepenuhnya karena kantor pusat masih tertutup lumpur sisa bencana. Enam wilayah lain yang juga menjadi perhatian serius adalah Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Ia menambahkan bahwa akses darat dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut perlahan mulai pulih.
Sementara itu, di Sumatera Utara, dari 18 wilayah yang terdampak bencana, 13 di antaranya dilaporkan telah berangsur normal. “Alhamdulillah 13 itu relatif sudah normal,” ujar Tito di gedung Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Namun, beberapa wilayah di Sumatera Utara masih memerlukan perhatian khusus, termasuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan Mandailing Natal. Tito menegaskan bahwa daerah lain yang juga terdampak bencana di Sumatera Utara tidak akan diabaikan. “Jadi jangan kecil hati bagi rekan-rekan daerah yang kami enggak sebut, itu tetap diberikan perhatian,” tuturnya.
Kondisi di Sumatera Barat dan Data Desa Hilang
Di Sumatera Barat, sebanyak 16 kabupaten/kota terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 13 wilayah dilaporkan sudah mendekati kondisi normal, menyisakan tiga daerah yang masih menjadi prioritas penanganan intensif: Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar. “Kita akan berikan perhatian yang khusus, tanpa menafikan yang lain,” jelasnya.
Secara keseluruhan, bencana di Sumatera telah berdampak pada 1.580 desa. Tito kemudian mengoreksi data awal mengenai jumlah desa yang hilang. Setelah berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, jumlah desa yang hilang bertambah.
“Pak Gubernur Sumatera Barat menyampaikan bahwa di Sumatera Barat tidak ada desa yang hilang. Yang ada adalah satu desa yang sempat terisolasi karena jalan daratnya putus. Tapi berkat kerja keras semua pihak, terutama dari TNI ya membangun jembatan, didukung yang lain, Polri, kemudian pemerintah daerah, dari Danantara, Menteri PU, semua bergerak, sehingga akhirnya satu desa itu sekarang sudah terbuka. Jadi yang hilang adalah 21 ya, 21 saat itu,” jelas Tito merujuk pada data awal.
Ia melanjutkan, “Aceh menyampaikan juga ada gampong yang lain yang hilang. Tadinya 13, menjadi 17. Ini akan kita cross check lagi. Apakah hilang betul karena terbawa banjir, longsor, ataukah terisolasi. Beda ya. Di Sumut masih tetap sama, 8. Jadi ada 25 kira-kira jumlah desa yang hilang per hari ini. Tapi kita akan cross-check lagi nantinya,” ujar Tito.





