Berita7.co.id — Mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein menyatakan dukungan penuh terhadap penyelidikan tiga perkara korupsi yang tengah ditangani Kepolisian RI. Ia menekankan pentingnya mengusut juga dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang terkait.
Yunus berharap proses penegakan hukum berlangsung profesional, adil, dan transparan serta dituntaskan sampai ke aktor intelektualnya. “Kita harus dukung kalau penegakan hukum itu profesional, adil dan transparan, kita dukung penuh. Ya, saya dukung penuh,” ujarnya.
Menurut Yunus, korupsi harus dibasmi sampai ke akar supaya negara tidak terbebani oleh praktik koruptif. “Sampai ke akar-akarnya, sampai ke puncak-puncaknya harus dibersihkan. Kalau nggak ya Republik ini bisa bangkrut sama koruptor-koruptor ini,” kata dia.
Ia memaparkan dua motif korupsi, yakni karena keserakahan atau karena kebutuhan. Untuk korupsi berjumlah besar, Yunus melihat kecenderungan pelaku menyamarkan asal-usul kekayaan melalui langkah-langkah yang termasuk modus pencucian uang.
“Kalau greedy corruption itu, saking besarnya uangnya berapa ratus miliar ya, kemudian emasnya 74 kilo, dia nggak habis makan sendiri. Dia akan muntah. Karena itu dia pasti sembunyikan dan samarkan asal-usulnya. Itulah yang namanya cuci uang,” ujar Yunus.
Yunus menunjuk bukti barang yang disita oleh polisi—dari uang tunai hingga emas batangan—sebagai contoh anonymous asset type, yakni aset yang sulit dilacak karena minim jejak administratif.
“Dengan membeli emas atau taruh uang tunai, itu salah satu modus cuci uang yang namanya anonymous asset type. Tipe aset yang tidak ada namanya, tidak ada jejaknya, tidak ada paper trail-nya. Misalnya uang, emas batangan, permata, berlian, makanan,” jelasnya.
Dia menegaskan penggunaan aset-anonim itu merupakan salah satu modus untuk menghilangkan asal-usul harta, sehingga masuk dalam ruang lingkup TPPU.
Yunus menilai indikasi pencucian uang sudah tampak dari penemuan barang bukti dalam kasus yang diselidiki Polri. Ia mencontohkan keberadaan brankas berukuran besar dan tersembunyi sebagai bukti perencanaan untuk menyimpan harta yang disamarkan.
“Jadi udah kelihatan indikasi cuci uangnya udah kelihatan. Dan tidak perlu dibuktikan sengaja apa nggak. Loh kalau dibuat brankas sedemikian rupa, ditaruh seperti di dinding itu, yang menyerupai dinding padahal itu ada brankas, gitu kan sudah direncanakan… Pasti sengaja,” ujar Yunus.
Polri Geledah Sejumlah Lokasi
Polda Metro Jaya melakukan penggeledahan di beberapa lokasi terkait tiga dugaan korupsi, yaitu di sektor PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel. Operasi itu dilaksanakan serentak, termasuk di sebuah money changer, kafe de’Clan Signature di Cipete, Jakarta Selatan, serta rumah di Bogor, Jawa Barat.
Polisi menyita barang bukti berupa emas batangan dan valuta asing senilai miliaran rupiah serta sejumlah barang lain dari lokasi penggeledahan. Kakortas Tipikor Polri Irjen Totok Suharyanto menyatakan penyidikan dilakukan bersama atau joint investigation dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Totok menyebut tiga perkara itu meliputi dugaan korupsi pengadaan batu bara yang memicu pemadaman listrik di Sumatera, perkara ASABRI, dan penyelesaian utang PT CBS kepada PT KNI sebagai anak usaha Krakatau Steel.
Atensi Presiden
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan kasus-kasus tersebut mendapat perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto. Menurut Budi, rangkaian penggeledahan merupakan bagian dari upaya menemukan dan mengumpulkan barang bukti untuk proses penyidikan.
Ia menyatakan jenis tindak pidana yang disidik mencakup suap, gratifikasi, dan pencucian uang. “Ini merupakan atensi Bapak Presiden untuk dugaan-dugaan kasus korupsi menjadi perhatian kepolisian untuk melaksanakan pengungkapan dan proses penyidikan,” kata Budi seusai penggeledahan di Cipete.
Ikuti Berita7.co.id
