Berita

Kisah Muhtadin: Wali Asrama SRMP 9 Bandung Bentuk Karakter Siswa dan Perangi Kemiskinan

Advertisement

Peran Muhtadin Yanto (33), seorang wali asrama di Asrama Putra Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi kunci dalam membentuk karakter positif dan menjaga kedisiplinan para siswanya. Ia mengemban tanggung jawab moral yang besar, mendampingi siswa selama 24 jam penuh di asrama.

Tanggung Jawab Wali Asrama

“Kita beban moralnya itu, harus mendampingi anak selama di asrama, karena memang di asrama itu ya bisa dibilang tiga kali jam (pelajaran) sekolah,” kata Muhtadin dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2/2026). SRMP 9 Kota Bandung saat ini menaungi 47 siswa, dengan dua gedung asrama terpisah untuk putra dan putri. Masing-masing diasuh oleh satu orang wali asrama.

Tugas seorang wali asrama tidak hanya sebatas menjaga dan memastikan kebutuhan dasar siswa terpenuhi. Mereka juga bertanggung jawab memastikan siswa bangun pagi, mengikuti kegiatan sesuai jadwal, hingga tidur tepat waktu. Muhtadin mengakui, mendidik anak-anak dengan latar belakang yang beragam bukanlah tugas yang mudah. Pendekatan khusus dan ketegasan menjadi kunci dalam membangun kedisiplinan di lingkungan asrama.

Membentuk Kedisiplinan dan Kemandirian

“Ya memang buat pengondisian, tiga bulan awal lumayan repot ya pembiasaannya,” ujar Muhtadin. Ia berupaya keras untuk mengubah perilaku kurang baik pada siswa, termasuk kenakalan seperti berbicara kasar dan bertengkar. “Jadi memang itu luar biasa, tapi alhamdulillah sekarang ya, semuanya berubah. Jadi sebelum Subuh sekarang udah pada mandi semua,” tuturnya dengan bangga.

Advertisement

Perkembangan positif siswa SRMP 9 Kota Bandung terlihat jelas dalam peningkatan kedisiplinan dan kemandirian mereka. Kebiasaan siswa juga bergeser ke arah tidak terlalu bergantung pada gawai, berkat edukasi bersama antara wali asuh dan guru. “Kita tetap bertahap mengedukasi, karena kan tantangan generasi sekarang itu kan gadget adiktif ya. Itu mengurangi konsentrasi mereka, emosi mereka,” jelasnya.

Dedikasi di Tengah Pengorbanan

Di balik dedikasinya, Muhtadin harus rela berpisah dengan keluarganya di Sukabumi, Jawa Barat. Ia melihat pengabdiannya ini sebagai kontribusi dalam pengentasan kemiskinan dan mewujudkan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. “Sekolah Rakyat harus sukses ya, karena memang dengan cara apa lagi, pengentasan kemiskinan ya, kecuali dengan generasinya itu diputus gitu,” ungkapnya.

Muhtadin meyakini Sekolah Rakyat sebagai program strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi, yang dinilainya lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan bantuan sosial. Keyakinan inilah yang memotivasinya untuk terus kuat menghadapi berbagai tantangan dan dinamika siswa di asrama. Ia mengenang suka duka selama satu semester program Sekolah Rakyat berjalan. “Ketika Presiden Prabowo itu mencanangkan Sekolah Rakyat untuk memutuskan kemiskinan ekstrem, wah ini strategis banget dibandingkan kita hanya memberikan bansos,” pungkasnya.

Advertisement