— Jakarta — Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut adanya kecenderungan saling menjatuhkan dalam masyarakat, diibaratkan sebagai bangsa kepiting. Menurut Sarmuji, pesan Presiden merupakan peringatan agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

“Itu adalah wanti-wanti pemimpin agar kita tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti masa lalu,” kata Sarmuji kepada wartawan, Sabtu (11/7/2026).

Sarmuji menekankan pentingnya kemampuan mengelola ketidakpuasan. Ia menegaskan ketidakpuasan tidak boleh beralih menjadi rasa iri dan dengki yang mendorong upaya saling menjatuhkan.

“Bangsa ini harus mampu mengelola ketidakpuasan. Ketidakpuasan tidak boleh menjadikan kita iri dan dengki. Jangan inginnya memimpin terus sementara kekuasaan pasti dipergilirkan. Jangan sampai kita tidak sempat membangun karena saling menjatuhkan,” ujarnya.

Kritik Konstruktif Versus Saling Menjatuhkan

Sarmuji, yang juga Ketua Fraksi Golkar DPR RI, memisahkan antara kritik terhadap pemerintah dan sikap saling menjatuhkan yang disorot Presiden. Menurutnya, kritik yang membangun diperlukan agar pemerintahan berjalan sesuai jalur.

“Kritik yang konstruktif tentu tidak masuk kategori yang dimaksud presiden. Bahkan kritik diperlukan agar pemerintah tetap berada pada rel yang seharusnya,” katanya.

Dia menambahkan agar diberi kesempatan kepada siapa pun yang memimpin untuk menjalankan kepemimpinan dan menunaikan janji-janji pemerintahan.

“Berilah kesempatan siapapun yang memimpin untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik dan menunaikan setiap janji,” imbuh dia.

Asal Usul Gambaran ‘Bangsa Kepiting’

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan gambaran bangsa kepiting saat memberi sambutan pada peluncuran Biosolar B50 di Rest Area, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2026). Ia menyebut sikap saling menjatuhkan itu mungkin berakar dari sejarah panjang penjajahan yang menimbulkan rasa rendah diri pada sebagian masyarakat.

Prabowo menuturkan ada kecenderungan sebagian orang merasa gembira melihat kesusahan orang lain, lalu mengutip metafora kepiting.

“Dikatakan bahwa kita termasuk bangsa kepiting. Kepiting kalau rekannya sudah naik ke atas, kepiting yang di bawah nurunin dia lagi. Ada kepiting lain mau naik ke atas, kepiting lain nurunin dia lagi,” ujarnya.
“Itu namanya senang melihat rekan susah, susah melihat rekan senang. Saya tidak tahu mungkin saudara-saudara pun punya pengalaman ya,” lanjut Prabowo.