Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6 mengguncang wilayah selatan Kepulauan Fiji pada Minggu (22/2/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami di Indonesia.
Analisis BMKG
Plt Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di Kepulauan Fiji berada pada kedalaman sekitar 653 kilometer. Menurutnya, gempa ini disebabkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Pasifik yang bergerak ke bawah Lempeng Australia.
“Gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan sesar geser naik (oblique thrust-fault),” ujar Rahmat Triyono dalam keterangan tertulisnya.
Rahmat menambahkan bahwa meskipun berpusat di Fiji, gempa tersebut tidak menimbulkan potensi tsunami di Indonesia. Ia mengimbau masyarakat yang berada di wilayah pesisir untuk tetap tenang dan terus memantau informasi perkembangan dari BMKG.
“Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, kepada masyarakat pesisir di wilayah Indonesia diimbau agar tetap tenang. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi tersebut,” ungkapnya.
Informasi dari Pusat Penelitian Geosains
Dilansir dari Xinhua pada Minggu (22/2/2026), gempa tersebut terjadi pada pukul 07:43:24 GMT. Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ) melaporkan gempa berada di kedalaman 630,4 kilometer. Titik gempa awalnya terdeteksi pada koordinat 21,71 derajat Lintang Selatan dan 179,71 derajat Bujur Timur.
USGS: Tidak Ada Peringatan Tsunami
Sementara itu, berdasarkan catatan USGS, gempa magnitudo 6 tersebut tidak menimbulkan peringatan tsunami. Pusat gempa dilaporkan berada 416 kilometer di selatan Levuka dan 423 kilometer di tenggara Suva, Fiji.
USGS mengeluarkan peringatan tingkat hijau untuk potensi korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat guncangan, yang mengindikasikan kemungkinan rendah terjadinya korban jiwa dan kerusakan. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa penduduk di wilayah tersebut umumnya tinggal di bangunan yang rentan terhadap guncangan gempa, terutama bangunan informal dan konstruksi campuran.





