Berita

Dana Abadi Kebudayaan 2026 Naik, Menbud Usul Akses Lebih Mudah bagi Pelaku Seni

Advertisement

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menghadiri pertemuan Dewan Penyantun Dana Abadi di Bidang Pendidikan Tahun 2026 yang diselenggarakan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Kemenko PMK), Jakarta. Rapat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada Desember 2025, bertujuan untuk menjaga kesinambungan pengambilan keputusan strategis dan penguatan arah kebijakan.

Dorongan untuk Seni dan Budaya

Fadli Zon berharap program dana abadi dapat diperluas cakupannya ke bidang seni dan budaya. Ia menekankan bahwa seni tidak hanya terbatas pada pertunjukan, tetapi juga mencakup aspek ekonomi dan industri budaya yang lebih luas. Menurutnya, pengembangan ahli museum di Indonesia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sangat penting sejalan dengan visi Presiden RI untuk menjadikan museum sebagai pusat budaya, ekonomi, instalasi peradaban, serta pusat paleoantropologi.

“Ada dua hal besar yang ingin kami dorong. Pertama, Indonesia sebagai negara dengan cultural mega diversity, kekayaan budaya yang luar biasa dan dapat dimanfaatkan secara langsung,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026). Ia menambahkan, “Ujungnya adalah manfaat bagi pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, dan masyarakat sekitar. Kedua, budaya sebagai soft power. Indonesia memiliki sejarah yang sangat tua dan berpotensi menjadi salah satu pusat asal-usul manusia modern.”

Fadli merujuk pada temuan ilmiah berupa lukisan gua tertua di dunia yang berada di Indonesia, berusia sekitar 51.200 tahun berdasarkan metode carbon dating dan uranium series. Usia ini melampaui temuan di Prancis yang sebelumnya tercatat 17.000 tahun.

Usulan STEAM dan Penyederhanaan Akses

Berdasarkan potensi tersebut, Fadli mengusulkan perluasan prioritas dari STEM menjadi STEAM (dengan penekanan pada Arts). Hal ini untuk mengakomodasi kebutuhan para ahli museum dan pakar mega diversity kebudayaan Indonesia yang berkontribusi pada soft power negara.

Terkait dana abadi kebudayaan, Fadli menyoroti tantangan akses bagi pelaku budaya, khususnya komunitas adat yang belum terbiasa dengan sistem digital dan prosedur yang ketat. “Oleh karena itu, kami mengusulkan penyederhanaan proses, tetap akuntabel dan transparan, tetapi lebih ramah bagi penerima manfaat,” tegasnya.

Advertisement

Proyeksi Pendapatan dan Penguatan SDM

Plt Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Sudarto, memaparkan proyeksi pendapatan tahun 2026 dengan menggunakan asumsi konservatif. Ia mengusulkan skema soft budget constraint kepada Dewan Penyantun, yang bersifat fleksibel dan akan dievaluasi sepanjang tahun berjalan. “Skema ini bersifat fleksibel dan akan dievaluasi sepanjang tahun berjalan, dengan harapan realisasi tahun ini bisa lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” jelas Sudarto.

Melalui pertemuan ini, LPDP berupaya meningkatkan penguatan kebijakan dan langkah strategis sepanjang 2026 guna mempercepat keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045. Kesepakatan juga dicapai agar para penerima manfaat LPDP segera mengabdi untuk Indonesia.

Pengembangan Talenta Nasional

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menambahkan bahwa pengembangan talenta nasional tidak hanya berfokus pada talent development, tetapi juga talent retention serta integrasinya dengan delapan industri strategis nasional.

Pratikno menekankan pentingnya pembentukan satuan tugas bersama yang berfokus pada beasiswa dan riset, termasuk identifikasi kebutuhan talenta yang selaras dengan target pembangunan nasional jangka menengah dan panjang.

Rapat dewan penyantun ini turut dihadiri oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Kepala BRIN RI Arif Satria, Sekjen Kemenbud Bambang Wibawarta, Sekjen Kemendikdasmen Suharti, Sekjen Kemenkeu RI Heru Pambudi, serta Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek RI Fauzan Adziman.

Advertisement