JAKARTA, 9 Februari 2026 – Sebuah buku berjudul ‘Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung’ akan segera diluncurkan pekan ini. Acara peluncuran yang dihelat di Parle Senayan, Jakarta, akan diisi dengan diskusi dan bedah buku yang menghadirkan sejumlah tokoh penting.
Apresiasi dari Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), memberikan apresiasi tinggi terhadap buku yang ditulis oleh wartawan senior Joseph Osdar. Osdar dikenal luas atas karya-karyanya yang mendalam dalam merekam dinamika politik Indonesia.
“Buku yang ditulis mantan wartawan senior Kompas di Istana dengan enam Presiden (mulai dari Presiden Soeharto hingga Presiden Jokowi) ini, mengangkat praktik politik yang jarang disorot; politik yang bekerja dalam senyap, tanpa panggung, tanpa sensasi, dan tanpa kebutuhan untuk mempertontonkan konflik. Langkah politik Prabowo Subianto dijadikan pintu masuk untuk membaca wajah lain demokrasi Indonesia-politik yang berlandaskan rasionalitas, etika, serta kepentingan kebangsaan,” ujar Bamsoet, dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Buku yang dijadwalkan terbit pada Minggu (15/2) ini juga mengulas bagaimana relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati peran kelembagaan dapat menciptakan stabilitas politik jangka panjang. Menurut Bamsoet, hubungan politik yang sehat tidak selalu membutuhkan koalisi formal atau pernyataan publik yang demonstratif.
“Terpenting dalam politik adalah kejelasan tujuan dan komitmen kebangsaan. Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, maka ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan,” tegas Ketua DPR RI ke-20 ini.
Politik sebagai Amanah Konstitusional
Lebih lanjut, buku ini tidak hanya merekam praktik politik, tetapi juga menawarkan pembacaan etis tentang kepemimpinan. Bamsoet menekankan bahwa kekuasaan dalam demokrasi sejatinya adalah alat, bukan tujuan.
“Kekuasaan dalam demokrasi adalah alat, bukan tujuan. Ketika kekuasaan dijadikan tujuan, maka politik kehilangan etikanya,” ujar Bamsoet. “Buku ini mengingatkan kembali bahwa politik harus selalu berpijak pada moral publik,” tambahnya.
Bamsoet berharap buku karya Osdar ini dapat menjadi referensi berharga bagi politisi, akademisi, mahasiswa, dan generasi muda yang ingin memahami politik dari perspektif yang lebih dewasa dan rasional. Ia menekankan pentingnya generasi politik baru yang tidak reaktif dan mampu berpikir jangka panjang.
“Kita membutuhkan generasi politik baru yang tidak reaktif, tidak mudah terprovokasi, dan mampu berpikir jangka panjang. Politik akal sehat harus menjadi fondasi demokrasi Indonesia ke depan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Joseph Osdar: Bamsoet sebagai Narasumber Utama
Penulis buku, Joseph Osdar, menjelaskan bahwa Bambang Soesatyo menjadi narasumber utama dalam buku ini. Osdar mengungkapkan bahwa Bamsoet memberikan gambaran mendalam tentang perkenalannya dengan Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus sekitar 30 tahun lalu di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.
Osdar mengutip Bamsoet yang mengetahui bahwa tidak semua perwira jenderal memiliki pengalaman tempur. Prabowo digambarkan sebagai ‘jenderal perang’, bukan ‘jenderal salon’, dengan rekam jejak pengalaman tempur, termasuk Operasi Seroja di Timor Timur pada dekade 1970-an dan operasi penyelamatan tim ekspedisi ilmiah Lorentz di Papua pada 1996.
Bamsoet juga menyoroti perhatian Prabowo sebagai komandan terhadap keluarga prajuritnya yang gugur dalam tugas, serta relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati untuk menjaga stabilitas politik jangka panjang.
Refleksi Politik Akal Sehat
Dalam pengantar tulisannya, Osdar menegaskan bahwa buku ini bukan glorifikasi tokoh, melainkan refleksi praktik politik yang mengedepankan akal sehat dan tanggung jawab kenegaraan.
“Buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya bekerja. Tidak selalu di depan kamera, tidak selalu di panggung besar, dan tidak selalu melalui pernyataan keras,” ujar Osdar. “Politik akal sehat justru sering hadir dalam ruang-ruang sunyi, dalam keputusan-keputusan yang tidak populer tetapi penting bagi bangsa,” lanjutnya.
Osdar menambahkan bahwa salah satu penekanan Bamsoet adalah pentingnya kedewasaan dalam mengelola perbedaan. Ia mengutip pesan Bamsoet bahwa demokrasi tidak rusak karena perbedaan, melainkan karena ketidakmampuan mengelola perbedaan.
“Demokrasi tidak rusak karena perbedaan, tetapi karena ketidakmampuan mengelola perbedaan. Politik tanpa panggung adalah politik yang tidak sibuk memperlebar jarak, tetapi berupaya menjembatani kepentingan demi stabilitas nasional agar investasi tumbuh, dunia usaha berkembang,” ujar Osdar mengutip Bamsoet.
Buku ini menempatkan Prabowo dan Bamsoet sebagai contoh praktik politik rasional di tengah budaya politik yang sering kali emosional dan reaktif. Politik akal sehat digambarkan sebagai politik yang memahami kapan harus berbicara dan kapan harus bekerja.
Osdar menilai narasi ini penting dihadirkan di tengah kelelahan publik akibat polarisasi, konflik elite, dan politik identitas.
“Masyarakat sudah lelah dengan politik yang penuh drama. Buku ini ingin menunjukkan bahwa ada jalan lain: politik yang tenang, substantif, dan berorientasi pada kepentingan bangsa, bukan kepentingan sempit sesaat,” ungkap Osdar.
Tokoh yang Akan Hadir
Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkaya diskursus publik mengenai praktik politik yang sehat dan rasional. Acara ini akan dihadiri oleh:
- Akademisi/Ahli Tata Negara: Prof Dr Jimly Asshiddiqie
- Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus): Aries Marsudiyanto
- Wartawan Senior/Ketua Forum Pemred 2015-2017/Mantan Duta Besar Singapura: Suryopratomo
- Ketua Umum KADIN Indonesia: Anindya Bakrie
Acara akan dipandu oleh Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali sebagai moderator.
Lihat juga Video: Fadli Zon Resmi Luncurkan Buku Sejarah Indonesia Versi Baru






