Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara (AU) melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Kamis (22/1/2026) sebagai upaya pencegahan dini terhadap potensi banjir akibat cuaca ekstrem.
Operasi Modifikasi Cuaca Hari Terakhir
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD, Mohamad Yohan, menyatakan bahwa operasi ini merupakan hari terakhir pelaksanaan ikhtiar modifikasi cuaca. “Hari ini masih ikhtiar OMC, hari ini terakhir,” ujar Yohan kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).
Detail Pelaksanaan Operasi
Pada hari keenam pelaksanaan OMC, Rabu (21/1/2026), BPBD DKI Jakarta telah mengerahkan tiga kali penerbangan untuk menabur garam di wilayah Perairan Selat Sunda dan utara Jakarta. Ketinggian penerbangan berkisar antara 8.500 hingga 11.000 kaki, dengan total garam yang disebar mencapai 2.400 kg.
“OMC melakukan penyemaian atau tabur garam. Lokasi penyemaian yaitu sekitaran Perairan Selat Sunda dan Utara Jakarta dengan ketinggian sekitar 8.500 Feet sampai 11.000 Feet serta membawa total garam yaitu 2.400 kg, dalam 3 kali penerbangan,” demikian keterangan resmi dari BPBD DKI Jakarta.
Proses ini diawali dengan rapat pemantauan cuaca, dilanjutkan dengan persiapan garam yang akan disemai, dan kemudian garam tersebut dibawa menggunakan pesawat TNI AU yang terbang dari Lanud Halim Perdanakusuma. Petugas kemudian menyemaikan garam dari dalam pesawat.
Kolaborasi Lintas Instansi
Kegiatan OMC ini merupakan hasil kolaborasi antara BPBD DKI Jakarta, TNI Angkatan Udara, dan BMKG. “Dalam kegiatan OMC kali ini BPBD DKI Jakarta berkolaborasi dengan TNI Angkatan Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG),” jelas Yohan.
Tujuan Antisipatif
Yohan menegaskan bahwa pelaksanaan OMC adalah langkah antisipatif dalam menghadapi dinamika cuaca ekstrem. Tujuannya adalah untuk mengurangi potensi hujan ekstrem yang dapat berdampak pada wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan sekitarnya.
“Operasi Modifikasi Cuaca dilaksanakan berdasarkan pemantauan dan analisis meteorologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem yang dapat berdampak pada wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan sekitarnya,” terangnya.






