Berita7.co.id — Harga Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$63.000 pada perdagangan Jumat pagi, sekaligus menghadapi tekanan jelang jatuh tempo kontrak opsi senilai sekitar US$1,4 miliar di bursa derivatif Deribit.
Meski menunjukkan penguatan, pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi koreksi mendekati expiry opsi yang dapat memengaruhi likuiditas dan volatilitas aset kripto terbesar itu.
Pergerakan Pasar dan Kapitalisasi
Data CoinMarketCap pukul 07.30 WIB mencatat kapitalisasi pasar kripto global naik 1,02% menjadi US$2,17 triliun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin tercatat naik sekitar 1,5% ke level US$63.018,05 per koin (kurs Rp18.094 per dolar AS), atau setara dengan sekitar Rp1,14 miliar.
Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto utama juga melaju, menguat 1,34%. Ethereum bergerak tipis naik ke US$1.740, sedangkan Binance Coin (BNB) tercatat di US$568.
Faktor Makro dan Aliran Dana
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mendekati 4,6% menjadi salah satu perhatian pelaku pasar. Angka yield yang lebih tinggi dinilai oleh sebagian pihak sebagai sinyal meningkatnya risiko fiskal dan ekonomi di AS, yang berimplikasi pada pergerakan aset berisiko.
Sementara itu, reli saham-saham terkait kecerdasan buatan menarik aliran modal ke pasar ekuitas. Saham Arm Holdings, Advanced Micro Devices (AMD), dan Micron Technology masing-masing mencatat lonjakan signifikan dalam perdagangan intraday.
Arus Dana Institusional dan Permintaan Opsi
Dari sisi institusional, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$85 juta pada Rabu, mengakhiri seri arus masuk selama tiga hari sebelumnya. Namun, angka itu belum dianggap cukup untuk mematahkan tren minat institusi terhadap Bitcoin.
Permintaan untuk kontrak opsi relatif seimbang antara opsi beli (call) dan opsi jual (put). Dalam empat hari terakhir, volume opsi beli masih lebih tinggi dibanding opsi jual, mencerminkan berkurangnya kebutuhan pelaku pasar akan instrumen lindung nilai terhadap penurunan harga.
Kontrak opsi mingguan yang berakhir Jumat menunjukkan nilai opsi beli hingga strike US$62.500 sekitar US$137 juta, sedangkan opsi jual di atas US$61.000 tercatat sekitar US$121 juta.
Skema Kemenangan Kubu Bullish Vs Bearish
Analis menyebut kubu bullish akan memperoleh keuntungan signifikan apabila harga Bitcoin mampu mempertahankan level di atas US$63.500 saat expiry pada Jumat pagi waktu UTC. Sebaliknya, investor bearish hanya memiliki keunggulan sekitar US$100 juta jika harga turun di bawah US$61.000.
Risiko Geopolitik dan Outlook Jangka Pendek
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut diperhatikan. Gencatan senjata sementara berpotensi meredakan kekhawatiran resesi global dan mendorong kembali minat pada aset berisiko, termasuk Bitcoin. Namun jika konflik kembali memanas dan mendorong kenaikan harga minyak, sentimen terhadap aset berisiko diperkirakan akan tertekan.
Investor juga mengamati pergerakan yield obligasi AS dalam beberapa hari mendatang. Jika yield mereda dan ketegangan geopolitik tidak memburuk, level support Bitcoin di kisaran US$62.000 diperkirakan dapat terjaga.
Meski begitu, penguatan berkelanjutan Bitcoin dalam jangka pendek masih bergantung pada perkembangan makroekonomi yang lebih positif. Selama ketidakpastian berlangsung, ruang kenaikan harga diperkirakan tetap terbatas.
Ikuti Berita7.co.id
