Berita

Banjir Pejaten Timur Belum Surut, Warga Mengungsi di Emperan Toko dan Jalanan

Advertisement

Banjir masih merendam kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Minggu (25/1/2026). Sejumlah rumah warga di RT 16 RW 08 dilaporkan masih terendam, memaksa mereka mengungsi karena tidak dapat kembali ke kediaman masing-masing.

Ketiadaan lokasi pengungsian resmi membuat warga terdampak terpaksa mencari tempat berlindung seadanya. Sebagian memilih menumpang di rumah kerabat, sementara yang lain terpaksa menggunakan emperan toko sebagai tempat tinggal sementara.

Salah satu pengungsi, Mujinten (61), seorang lansia asal Klaten, Jawa Tengah, yang telah mengontrak di kawasan tersebut selama 20 tahun, terpaksa mengungsi di emperan kios bersama sejumlah tetangganya. Mereka telah berada di lokasi tersebut sejak Kamis (22/1) malam.

“Hari Kamis jam 12 malam, air datang, kita langsung buru-buru lari. Anak saya ungsiin ke teman saya di atas sono,” ujar Mujinten saat ditemui di emperan kios pada Sabtu (24/1/2026). Ia menceritakan bahwa saat air bah datang, mereka hanya sempat menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang berharga maupun pakaian.

“Kita lari di sini, cuma membawa baju ya ini satu yang dipakai ini saja,” tuturnya.

Mujinten mengungkapkan rasa syukurnya atas kebaikan pemilik kios yang mengizinkan mereka berteduh. “Untung alhamdulillah Ibu Haji ini juga orang cakep, kita tumpangin juga nggak apa-apa, boleh-boleh aja,” katanya.

Kondisi ini, menurut Mujinten, bukanlah hal baru. Ia mengeluhkan minimnya bantuan tenda maupun tempat tidur dalam kejadian banjir sebelumnya. “Belum ada itu (tenda). Belum ada, dari dulu kayaknya,” keluhnya.

Untuk keperluan mandi, warga terpaksa menumpang di rumah warga yang tidak terdampak banjir. Mujinten, yang sehari-hari berdagang di Pasar Minggu, bahkan memilih pergi ke pasar untuk mandi jika tidak memungkinkan menumpang.

Advertisement

“Kalau mau mandi, kita kalau boleh, numpang. Kalau nggak boleh, kita mandi di pasar sono,” ungkapnya.

Masjid yang berlokasi tak jauh dari area banjir sebenarnya dapat menjadi alternatif tempat mengungsi. Namun, warga kini tidak lagi diizinkan menggunakan fasilitas tersebut akibat insiden di masa lalu.

“Gini, waktu itu kan waktu tahun berapa itu kan pada ngungsi ke sono di masjid. Berhubung di masjid itu semuanya ada yang jorok, ada yang gimana, berantem apa gimana, terus tidak diperbolehin,” jelas Mujinten.

Akibatnya, emperan toko dan pinggir jalan menjadi satu-satunya pilihan bagi Mujinten dan warga lainnya untuk bertahan hingga air Kali Ciliwung surut. Mereka harus menghadapi dinginnya malam dan tampias hujan di tempat pengungsian terbuka.

“Dingin (kalau malam), apalagi hujan, apalagi hujan, ya dingin. Kadang-kadang dari situ tampias,” keluh Mujinten.

Meskipun lelah secara fisik akibat tidur tanpa alas yang memadai, Mujinten mengaku pasrah dengan keadaan. “Ya gimana nggak capek, ya capek, capek badan, capek tenaga. Diterima (saja), pasrah,” pungkasnya.

Advertisement