Sepakbola

Arteta: Rivalitas dengan Guardiola Sehat, Ibarat Nadal vs Federer di Tenis

Advertisement

London – Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, mengakui adanya perseteruan dengan Pep Guardiola, namun ia menilai rivalitas tersebut sehat dan dapat disamakan dengan persaingan antara Rafael Nadal dan Roger Federer di dunia tenis.

Persaingan Guru dan Murid

Sejak meninggalkan posisi asisten manajer Manchester City pada tahun 2019, Arteta secara konsisten berhadapan dengan gurunya, Pep Guardiola. Persaingan keduanya semakin memanas ketika Arsenal dan Manchester City menjadi pesaing utama dalam perebutan gelar Liga Inggris.

Hingga kini, Arteta belum berhasil mengalahkan Guardiola dalam pertandingan resmi. Musim lalu menjadi momen yang paling menyakitkan bagi Arsenal, karena mereka harus puas menjadi runner-up hanya terpaut dua poin dari Manchester City di pekan terakhir.

Musim ini, persaingan kembali memanas. Arsenal memimpin klasemen Liga Inggris hingga pekan ke-23, unggul empat poin atas Manchester City. Performa stabil Arsenal sepanjang musim ini pun menuai kekaguman dari Guardiola.

Rivalitas Sehat dan Hubungan Baik

Meskipun sebagian pihak menganggap persaingan ini sebagai psy war antara guru dan murid, Arteta tidak terlalu memusingkannya. Fokus utamanya adalah membawa Arsenal tampil sebaik mungkin di setiap pertandingan.

Advertisement

Bagi Arteta, Guardiola adalah sosok rival sekaligus mentor yang sangat ia hormati. Ia membandingkan rivalitas mereka dengan persaingan legendaris antara Roger Federer dan Rafael Nadal di dunia tenis, yang telah menghasilkan total 42 gelar Grand Slam.

“Bagi saya menjaga hubungan dengannya itu tidak mengejutkan. Justru jika saya menjauh maka itu jadi contoh yang buruk di olahraga ini. Di dunia olahraga, Anda harus banyak belajar dan pelajaran terbesarnya adalah sebuah hubungan, contoh Rafa Nadal dan Roger Federer,” ujar Arteta seperti dikutip dari ESPN.

Arteta menambahkan, “Saya belum mencapai level itu. Tapi salah satu rivalitas terhebat di dunia, dua atlet terhebat, bagaimana hubungan keduanya ketika sama-sama bertemu di final, saling berhadapan. Jadi bagaimana mungkin saya tidak mau menjalin hubungan baik dengan seseorang yang saya kagumi, bekas rekan kerja pula? Tapi ini juga berlaku dengan lawan lainnya. Tapi ketika di lapangan, semuanya ingin menang.”

Advertisement