Sebanyak 12.146 narapidana (napi) di seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, telah berpartisipasi dalam program Ketahanan Pangan yang digagas oleh Direktorat Jenderal Permasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (Ditjenpas KemenImipas). Program ini dinilai berhasil menumbuhkan kemandirian dan memberikan capaian positif bagi para warga binaan.
Data Ditjenpas KemenImipas mencatat, jumlah napi yang terlibat sejak program dicanangkan hingga 29 Desember 2025 mencapai 12.146 orang. Selama periode yang sama, lahan seluas 4.424.101 meter persegi telah digarap untuk kegiatan ketahanan pangan. Total premi yang berhasil dikumpulkan oleh para napi dari program ini mencapai Rp 905.284.228.
Menanamkan Kemandirian dan Mendukung Swasembada Pangan
Program Ketahanan Pangan merupakan salah satu upaya Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan untuk menanamkan modal kemandirian para napi. Melalui program ini, napi dibekali pengetahuan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Program yang dicanangkan oleh Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan, Agus Andrianto, ini juga sejalan dengan upaya mendukung cita-cita swasembada pangan nasional yang digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Agus Andrianto tidak hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mendorong peningkatan kemampuan napi di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menekankan bahwa bengkel-bengkel pelatihan kerja di dalam lapas harus diberdayakan secara optimal untuk menghasilkan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi kesejahteraan napi.
Produk Napi Tembus Pasar Internasional
Beberapa produk hasil pelatihan kerja napi telah berhasil menembus pasar internasional. Contohnya adalah coir shade buatan napi Lapas Kelas IIA Garut yang diekspor ke Spanyol, coir net dari Lapas Kelas I Cirebon ke Korea Selatan, serta coco rope dari Lapas Kelas IIB Purwodadi ke Belgia, Prancis, dan Australia. Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan mencatat total ada 13 jenis produk napi yang telah diekspor ke 11 negara, melibatkan 23.560 napi di 16 lapas.
Nusakambangan sebagai Pilot Project Kemandirian
Pulau Nusakambangan dijadikan sebagai proyek percontohan (pilot project) untuk meningkatkan kemandirian napi. Menteri Agus Andrianto berupaya mengubah stigma lapas yang hanya dianggap sebagai tempat penghukuman. Di Nusakambangan kini terdapat berbagai fasilitas pelatihan, seperti balai pelatihan konveksi, balai pelatihan pelintingan rokok, balai pelatihan pembuatan pupuk organik, balai pelatihan pengolahan singkong menjadi mocaf, serta pabrik fly ash bottom ash yang menghasilkan material bangunan dari limbah PLTU. Selain itu, lahan-lahan ketahanan pangan juga dikembangkan di pulau tersebut.
“Kami ingin mewujudkan konsep sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Di satu sisi, kami membina warga binaan dengan pelatihan dan pemberdayaan. Di sisi lain, kami turut berkontribusi dalam ketahanan pangan nasional sebagaimana ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto,” jelas Menteri Agus Andrianto beberapa waktu lalu.






