Berita

Wasekjen PBNU: Gus Yahya Dianggap Mengulur Waktu, Upaya Islah Tak Kunjung Terealisasi

Advertisement

Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imron Rosyadi Hamid atau Gus Imron menilai Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya terkesan mengulur waktu dan tidak menunjukkan niat tulus untuk melakukan islah. Gus Imron menyatakan, hingga kini belum ada tindak lanjut konkret dari Gus Yahya dalam bentuk kerangka islah.

“Fakta di lapangan menunjukkan tidak ada tindak lanjut dalam bentuk kerangka islah. Tidak ada tahapan, tidak ada time line, dan tidak ada kerja bersama. Ini yang membuat publik menangkap kesan bahwa Gus Yahya memang mengulur waktu dan tidak sungguh-sungguh menginginkan islah,” ujar Gus Imron kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).

Gus Imron menegaskan, dari sisi Syuriyah, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar telah menyiapkan rute islah secara konstitusional, yaitu melalui rapat pleno. Tahapan selanjutnya adalah Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes), yang puncaknya adalah Muktamar.

“Rais Aam sudah membuka jalan. Rutenya jelas. Pleno, lalu Konbes, kemudian Munas, dan akhirnya Muktamar. Tapi sampai hari ini tidak ada iktikad yang ditunjukkan oleh Gus Yahya untuk berjalan di rute itu,” kata dia.

Gus Imron juga menyoroti dinamika pasca pertemuan di kediaman Rais Aam pada Minggu (28/12/2025) yang seharusnya menjadi momentum memperkuat rekonsiliasi. Namun, berselang dua hari, Gus Yahya justru memperkenalkan Amin Said Husni sebagai Sekretaris Jenderal PBNU di ruang publik.

“Ini adalah tanda kuat bahwa Gus Yahya tidak menginginkan islah,” katanya. Ia menambahkan, langkah tersebut tidak hanya memperkeruh suasana, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa proses islah sengaja digantung untuk kepentingan tertentu.

Advertisement

Gus Imron mengingatkan, PBNU kini berada di ambang momentum besar, yaitu 31 Januari 2026 yang menandai satu abad NU versi Masehi. Selain itu, agenda Munas dan Konbes semestinya segera dipersiapkan secara serius.

“Waktunya sangat sempit. Satu abad NU versi Masehi sudah di depan mata. Munas dan Konbes harus dipersiapkan. Tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda ke arah sana karena islah tidak kunjung ditindaklanjuti,” ujarnya.

Gus Imron menegaskan kembali, jika akhirnya Rais Aam mengambil keputusan-keputusan strategis, hal itu merupakan konsekuensi dari kebuntuan yang dibiarkan berlarut-larut.

“Kalau islah tidak dijalankan, rute yang sudah dibuat tidak diikuti, dan waktu terus dibiarkan berjalan, maka jangan menyalahkan pihak lain jika Rais Aam mengambil keputusan-keputusan demi menjaga marwah jam’iyah dan memastikan NU tetap berjalan,” katanya.

Advertisement