Berita

Wamensos Agus Jabo: Jati Diri Bangsa dan Semangat Nasionalisme Kunci Hadapi Ketidakpastian Dunia

Advertisement

Yogyakarta – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya jati diri bangsa Indonesia yang menyatu dengan alam, peka terhadap penderitaan rakyat, serta setia menjaga warisan leluhur. Hal ini disampaikannya saat menghadiri Haul ke-171 Pangeran Diponegoro di Ndalem Tegalrejo, Monumen Diponegoro Sasana Wiratama, Yogyakarta, pada Jumat (9/1/2026).

Agus Jabo menyatakan bahwa meskipun Indonesia adalah bangsa yang kuat, penataan kembali arah kehidupan berbangsa dan bernegara sangat diperlukan agar selaras dengan jati diri bangsa. “Jati diri karakter bangsa yang menyatu dengan alam, peka terhadap penderitaan rakyat, serta setia nguri-uri nilai dan warisan leluhur,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Haul Pangeran Diponegoro tahun ini mengusung tema “Merajut Silaturahmi dalam Warisan Perjuangan”. Dalam kesempatan tersebut, Agus juga mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan masyarakat di Sumatera yang terdampak musibah banjir dan tanah longsor, seraya berharap kehidupan mereka dapat segera pulih.

Mengutip ajaran Jawa, Agus menyampaikan, “Sebagai orang Jawa, kita diajarkan untuk mikul duwur mendem jero, mendoakan para leluhur yang telah mendahului kita, yang telah mendarmabaktikan hidupnya demi kemerdekaan bangsa Indonesia.”

Lebih lanjut, Agus menyampaikan arahan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam retret kabinet pada 6 Januari lalu. Menurut Presiden, kondisi dunia saat ini tengah menghadapi berbagai pergolakan dan ketidakpastian. Dalam situasi tersebut, persatuan dan nasionalisme menjadi kunci keselamatan bangsa.

“Kita akan selamat jika terus bersatu, mempertahankan semangat nasionalisme, dan bergotong royong melindungi kepentingan nasional. Itulah cara kita menghadapi dunia yang tidak stabil,” tegas Agus, mengutip Presiden Prabowo.

Agus menambahkan, pemerintah terus berupaya melalui berbagai program prioritas untuk memastikan manfaat pembangunan dirasakan seluruh rakyat. Program tersebut mencakup penguatan kesejahteraan sosial seperti Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis (MBG), kemandirian pangan, hingga pembangunan kampung nelayan. Tujuannya adalah menghadirkan kebahagiaan lahir dan batin bagi masyarakat.

Advertisement

Ia juga mengaitkan cita-cita Indonesia yang berdikari, mandiri, dan berkepribadian kuat dengan nilai perjuangan Pangeran Diponegoro. Agus menilai Pangeran Diponegoro sebagai figur teladan yang layak direfleksikan sebagai simbol pemersatu dan penguat karakter bangsa.

“Indonesia hari ini kehilangan banyak tokoh panutan. Pangeran Diponegoro adalah figur yang sangat layak diteladani. Beliau lahir sebagai bangsawan, tetapi keluar dari keraton untuk manunggal (menyatu) dengan Tuhan, alam semesta, leluhur, dan rakyat kecil. Itulah jati diri orang Jawa yang sejati,” ungkapnya.

Agus menegaskan bahwa Pangeran Diponegoro bukanlah sosok pencari kekuasaan, melainkan simbol kebijaksanaan dan kepemimpinan yang berpihak pada penderitaan rakyat. Perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro, menurutnya, mampu mengguncang penjajahan Belanda karena dilandasi keberanian, martabat, dan cinta Tanah Air.

Ia berharap peringatan haul Pangeran Diponegoro tidak hanya menjadi ritual doa, tetapi juga pengamalan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara haul turut dihadiri oleh Syekh Abu Zaki As Sauri, Penasehat Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) Gusti Yudha beserta jajaran pengurus, perwakilan keluarga besar Pangeran Diponegoro, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, para ulama, jamaah, serta jajaran Kementerian Sosial, termasuk para Kepala Sentra Baturaden, Solo, dan Magelang, serta tamu undangan lainnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Sosial juga menyalurkan santunan kepada 69 anak dari Panti Asuhan Bina Siwi dan Panti Asuhan Sasana Kreatif Mandiri.

Advertisement