Berita7 — JAKARTA – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (WamenPPPA) Veronica Tan mengingatkan pentingnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan gawai secara bijak bagi anak-anak. Dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Veronica berpesan agar anak tidak menyalahgunakan gawai untuk melihat urusan pribadi orang lain.
Acara yang dihadiri oleh Wali Kota Depok Supian Suri dan 500 anak itu menjadi momentum bagi Veronica untuk menyampaikan pesannya. Ia menekankan bahwa belajar adalah kunci utama untuk meraih mimpi, dan teknologi seperti AI serta gawai dapat menjadi alat pendukung yang efektif jika dimanfaatkan dengan benar.
“Yang paling pertama adalah untuk mengejar mimpi, belajarlah sebanyak-banyaknya. Pakailah apapun alat yang ada, tapi untuk mengejar mimpi dan tujuan cita-cita,” ujar Veronica dalam sambutannya.
Ia secara spesifik meminta anak-anak untuk tidak menggunakan gawai untuk hal-hal yang tidak produktif. “Jadi kalau zaman sekarang ini punya AI, punya gadget, gadget-nya jangan di-scroll urusan orang ya. Jangan banyak lihatin yang aneh-aneh, ketawain orang, terus ketawa sendiri,” tegasnya.
Veronica mengakui bahwa anak-anak saat ini tidak dapat terlepas dari teknologi. Oleh karena itu, ia berpesan agar mereka senantiasa bijak dalam menyaring informasi yang didapat melalui gawai. “Kita tidak bisa keluar dari jalur teknologi. Tapi Adik-adik harus bisa memastikan apa yang Adik-adik lihat. Jadi ini juga membuat kita punya prinsip kita mau belajar mengejar mimpi dengan tools dan teknologi yang ada, tapi kita juga mau belajar untuk kebaikan,” ungkapnya.
Selain bijak bermedia, Veronica juga menekankan pentingnya hati nurani dan budi pekerti. Ia mengingatkan agar anak-anak selalu menggunakan hati nurani dalam berinteraksi, terutama saat melihat orang lain membutuhkan bantuan. “Jadi yang kedua yang harus Adik-adik ingat adalah budi. Jadi hati nurani itu Tuhan ciptakan untuk kita semua. Jadi kalau kita rasa ada teman atau orang lain yang mungkin perlu bantuan, janganlah lupakan hati nurani itu. Jadilah teman-teman, jadilah orang-orang yang tetap memakai hati nurani, memakai budi kita. Karena budaya kita adalah budaya yang berakal budi,” bebernya.
Lebih lanjut, Veronica mendorong anak-anak untuk berani mengatakan ‘tidak’ ketika dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan atau privasi mereka. Mengingat luasnya akses informasi melalui teknologi, ia mengingatkan bahwa tidak ada batasan informasi yang bisa menjangkau siapapun, termasuk predator anak.
“Seperti kalau kita lihat benar, balik lagi, siapapun itu bisa meng-grooming Adik, siapapun itu bisa berbicara dengan Adik-adik karena dengan adanya teknologi kita sudah tidak ada batas. Tapi Adik-adik bisa mengatakan tidak kalau semua hal ataupun percakapan sudah melewati batas urusan pribadi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga privasi keluarga. “Apalagi daerah privasi keluarga Anda yang mungkin ditanyain sesuatu yang mungkin harusnya ini udah daerah private gitu loh. Adik-adik bisa mengatakan tidak,” tambahnya.
Terakhir, Veronica berpesan agar anak-anak berani mengungkapkan perasaan mereka, namun dengan bijak memilih kepada siapa mereka bercerita. Ia menyarankan agar hanya bercerita kepada orang yang paling dikenal dan dipercayai.
“Carilah orang yang paling Adik kenal, Adik percayai. Jangan sembarangan bercerita kepada orang lain. Jadi tiga hal ini yang saya yakin dengan adanya tekad kita berbudaya di hari lebaran anak ini dan berbudaya yang berakal dan berbudi, ini menjadi basic kita untuk melangkah ke depan untuk mengejar mimpi dan juga memberikan pengaruh yang baik kepada sekitaran kita,” ungkapnya.
Ikuti Berita7
