Berita7 — Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menegaskan Indonesia memiliki tiga modal utama yang menjadi pilar daya tawar di panggung internasional. Pernyataan itu disampaikan dalam seminar “Strategi Penguatan Industri Maritim Nasional Menghadapi Dinamika Global” yang digelar PPAL di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Havas merinci tiga pilar tersebut: kapasitas fisik, sumber daya manusia (SDM), dan ketegasan kebijakan luar negeri. Ketiganya, menurut dia, menjadi alat strategis menghadapi dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Tiga Pilar Daya Tawar Indonesia
Pilar pertama, kapasitas fisik, diwujudkan lewat penguatan industri maritim nasional. Havas menyebutkan penguasaan armada kapal, pengembangan galangan kapal dalam negeri, dan optimalisasi perusahaan pelayaran sebagai komponen utama.
“Kemudian pengelolaan pelabuhan, kita punya keahlian pengelolaan pelabuhan, jasa pelabuhan,” ujarnya.
Selain infrastruktur pelabuhan, Havas menyoroti perluasan aktivitas eksplorasi minyak dan gas (migas) lepas pantai Indonesia ke berbagai negara. Ia menyebutkan keterlibatan perusahaan Indonesia di Aljazair, Gabon, Angola, Venezuela, dan rencana masuk ke Namibia, sebagai bagian dari capaian eksplorasi yang menyokong diplomasi maritim.
Pilar kedua adalah keunggulan SDM maritim. Havas mengatakan kru kapal asal Indonesia dikenal kompeten dan tangguh di pasar internasional, didukung lembaga pendidikan kedirgantaraan dan kelautan domestik yang mumpuni.
Prinsip Bebas Aktif Jadi Pilar Ketiga
Pilar ketiga yang dianggap paling krusial adalah prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Havas menegaskan prinsip “bebas aktif” berbeda dengan sikap netral pasif.
“Kalau kita bicara bebas aktif, itu artinya kita bebas memilih strategi kita sendiri. Aktif, kita aktif untuk melakukan kegiatan hubungan internasional,” tegas Wamenlu.
Menurut Havas, netralitas menyangkut deklarasi hukum formal, sementara bebas aktif memungkinkan penentuan arah kebijakan demi kepentingan nasional. Dalam konteks polarisasi global, ia mengingatkan pentingnya menghindari keterikatan pada satu kubu kekuatan.
“Sekarang sulit kalau kita hanya ikut satu camp saja… kalau kita ikut satu camp saja ya kita mati. Kita harus bergerak di antara berbagai aspek yang sekarang jadi semakin rumit,” pungkasnya.
Posisi Strategis Laut Indonesia
Havas menyinggung posisi geografis Indonesia sebagai penguat daya tawar, terletak di persimpangan dua samudra dan dua benua. Jalur perairan Indonesia, termasuk empat dari sembilan titik sumbat maritim (chokepoints) dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, menjadi jalur logistik internasional yang vital.
Dalam kondisi ketegangan ekonomi dan militer antar-negara pada 2026, Havas menilai wilayah laut nasional rawan menjadi arena perebutan pengaruh. Karenanya, kebijakan bebas aktif dipandang sebagai perisai sekaligus alat diplomasi ekonomi untuk menjaga kepentingan nasional.
Havas menutup paparan dengan menegaskan integrasi antara kekuatan armada fisik, keahlian tata kelola pelabuhan, dan keteguhan diplomasi non-blok sebagai upaya merealisasikan visi Poros Maritim Dunia untuk mengamankan kepentingan ekonomi Indonesia dari risiko embargo atau sanksi akibat konfrontasi blok global.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.