Berita

Wamenhut Peringatkan Potensi Karhutla 2027 Akibat Siklus El Nino

Advertisement

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mengungkapkan kekhawatiran mengenai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat pada tahun 2027 akibat siklus El Nino. Ia menekankan pentingnya pemerintah untuk melakukan antisipasi dini terhadap fenomena alam ini.

Potensi Karhutla Akibat El Nino

Peringatan ini disampaikan oleh Wamenhut Rohmat dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR di Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (19/1/2026). Ia mengingatkan kembali dampak siklus El Nino empat tahunan yang pada tahun 2015 tercatat membakar lahan seluas 2,6 juta hektare.

“Pemerintah meningkatkan upaya-upaya monitoring dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, mengingat siklus empat tahunan El Nino atau kemarau yang panjang yang kemungkinan akan terjadi pada tahun 2025. Jadi pada pantauan 2015, ada 2,6 juta hektar yang terbakar. Ini yang siklus empat tahunan,” ujar Rohmat dalam rapat tersebut.

Lebih lanjut, Rohmat memaparkan data historis karhutla. Pada tahun 2019, tercatat 1,6 juta hektare lahan terbakar, sementara pada tahun 2023, angka tersebut menurun menjadi 1,16 juta hektare lahan hutan yang terdampak. Ia memproyeksikan peristiwa serupa dengan skala jutaan hektare dapat terjadi kembali pada tahun 2027.

“Kemudian di tahun 2019, ada 1,6 juta hektare. Kemudian di tahun 2023 ada 1,16 juta hektare. Jadi masih dalam skala jutaan kebakaran hutan dan lahan yang kita bisa tanggulangi, dan ini kemungkinan akan terjadi di tahun 2027,” jelasnya.

Koordinasi Lintas Kementerian dan Daerah

Menghadapi potensi karhutla di tahun 2027, Wamenhut Rohmat memastikan bahwa Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah menjalin koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Pertanian, dan pemerintah daerah.

Advertisement

Fokus koordinasi ini adalah untuk memetakan daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan, serta mengidentifikasi sumber-sumber air yang krusial untuk penanggulangan.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian PU, kemudian juga Kementerian Pertanian, dan pemerintah daerah, terutama pada lokasi-lokasi yang rawan kebakaran hutan lahan untuk kita memetakan sumber-sumber air,” ungkap Rohmat.

Ia menegaskan bahwa ketersediaan sumber air akan menjadi perhatian utama dalam menghadapi kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada tahun 2027.

“Karena di tahun 2027, kemarau panjang yang sangat menjadi perhatian adalah sumber-sumber air untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” tutupnya.

Advertisement