Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menekankan pentingnya pengembangan energi nuklir sebagai pilar utama dalam mencapai ketahanan energi nasional sekaligus mewujudkan target net zero emission pada tahun 2060.
Konsep Ketahanan Energi dan Komitmen Dekarbonisasi
Pernyataan ini disampaikan Eddy Soeparno saat menjadi pembicara dalam acara Kick-off Forum Nuclear Energy Awareness for Indonesia’s Low-carbon Future. Forum yang diselenggarakan oleh PT PLN (Persero) bekerja sama dengan Tony Blair Institute dan Ecanid di Kantor Pusat PLN pada Rabu (11/2/2026) ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai peran energi nuklir dalam masa depan rendah karbon Indonesia.
“Seluruh kebijakan dan implementasi program energi nasional harus diarahkan pada kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan energinya, baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri dengan tetap mempertimbangkan komitmen dekarbonisasi menuju net zero emission pada 2060 atau lebih awal,” ujar Eddy dalam keterangan resminya pada Kamis (12/2/2026).
Paradoks Sumber Daya dan Tantangan Pasokan
Eddy menyoroti paradoks yang dihadapi Indonesia: sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, namun masih bergulat dengan ketergantungan dan kerentanan pasokan energi. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa program transisi energi Indonesia harus fleksibel, menyesuaikan kebutuhan dan bauran energi dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan, keterjangkauan, kemampuan, keberlanjutan, dan kehandalan.
Dalam konteks ini, pengembangan energi nuklir dinilai sebagai salah satu opsi sumber energi yang bersih dan andal untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Rencana Pengembangan Energi Nuklir Indonesia
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 telah mencanangkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada tahun 2032 dan 2034 dengan total kapasitas 500 Megawatt (MW). Kapasitas ini diproyeksikan akan meningkat signifikan menjadi 7 Gigawatt (GW) pada tahun 2040.
Namun, Eddy mengingatkan bahwa rencana ambisius ini memerlukan perencanaan matang dan regulasi yang ketat, terutama terkait aspek keamanan dan keselamatan. “Energi nuklir memang kapasitas energi yang besar dan densitas energi yang tinggi, namun di saat yang sama juga menghadirkan tantangan besar, mulai dari kebutuhan pembiayaan yang signifikan, risiko cost overrun, kesiapan teknologi dengan standar keselamatan ketat, hingga pengelolaan limbah radioaktif,” jelasnya.
Dinamika Geopolitik dan Pemilihan Teknologi
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menekankan pentingnya isu geopolitik, termasuk negosiasi tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat, dalam menentukan teknologi yang akan digunakan untuk pembangunan PLTN di Indonesia. “Di tengah meningkatnya tensi antar kekuatan besar dan dinamika perdagangan global, Indonesia harus cermat dalam menentukan mitra dan teknologi yang akan digunakan, demi menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,” tegasnya.
Ajakan Diskursus dan Perencanaan Energi Berkualitas
Eddy Soeparno menggarisbawahi bahwa di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik yang melampaui pertumbuhan energi primer, Indonesia menghadapi kompetisi global dalam memperebutkan teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, dan rantai pasok energi bersih.
“Saya mengajak kita untuk memulai diskursus dan perencanaan yang baik guna memahami kebutuhan, kemampuan, dan kesempatan Indonesia membangun kapasitas energi nuklirnya. Ini sejalan dengan kebutuhan kita untuk mendapatkan sumber energi yang bersih dan handal. Saya meyakini ketahanan energi dan ketahanan iklim bisa kita capai bersama-sama dalam rangka menciptakan pertumbuhan energi yang berkualitas,” pungkasnya.






