Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya peningkatan kemampuan berbahasa dan literasi di kalangan generasi muda Indonesia. Menurutnya, kedua aspek tersebut merupakan fondasi krusial bagi generasi penerus untuk membangun daya saing yang tinggi di kancah global.
Literasi sebagai Kunci Daya Saing
“Kemampuan berbahasa dan literasi yang baik bukan sekadar bagian dari alat untuk berkomunikasi, melainkan fondasi bagi setiap anak bangsa agar dapat merumuskan gagasan dan mengekspresikan kreativitas yang merupakan dasar untuk mewujudkan daya saing,” ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan resminya pada Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menyoroti data Program for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan skor literasi membaca Indonesia sebesar 359 poin. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018 yang tercatat 371 poin. Lebih lanjut, skor literasi pelajar Indonesia masih terpaut jauh dari rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mencapai 476 poin.
Potensi Generasi Z dan Tantangan Literasi
Meskipun demikian, catatan Goodstats pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa 26% generasi Z memiliki kebiasaan membaca buku setiap hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi milenial (20%) dan Generasi X (18%).
Lestari menilai potensi tersebut harus menjadi perhatian serius dan segera disikapi dengan langkah nyata oleh seluruh pemangku kepentingan. Ia berpendapat bahwa dengan kemampuan literasi yang masih di bawah rata-rata negara OECD, upaya membangun fondasi daya saing bangsa memerlukan dukungan yang kuat dari berbagai pihak di tingkat pusat maupun daerah.
Sinergi untuk Peningkatan Literasi
“Untuk melahirkan generasi yang berdaya saing melalui peningkatan literasi, diperlukan sinergi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa budaya membaca dan menulis perlu dipupuk sejak dini sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban akademis.
Oleh karena itu, Lestari mendorong para pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan program literasi nasional yang terintegrasi dengan teknologi. Tujuannya adalah untuk memastikan akses bahan bacaan berkualitas dapat merata hingga ke seluruh pelosok negeri.
Dengan peningkatan kemampuan berbahasa sebagai fondasi dan literasi sebagai pilar, Lestari optimistis Indonesia mampu melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual dan kreatif secara emosional. Hal ini diharapkan menjadi dasar peningkatan daya saing bangsa di era persaingan global.
“Sehingga dapat terbangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri setiap anak bangsa di era persaingan global saat ini,” tutupnya.






