PADANG – Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Vasko Ruseimy, mengimbau keras masyarakat untuk tidak mengonsumsi air dari fenomena sinkhole atau lubang runtuhan yang terjadi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Imbauan ini menyusul ramainya warga yang mengambil air tersebut untuk dijadikan obat, padahal hasil kajian awal menunjukkan kandungan bakteri E-Coli yang cukup tinggi.
Kandungan Bakteri Tinggi, Air Tidak Layak Konsumsi
Vasko Ruseimy menjelaskan, berdasarkan kajian awal oleh Badan Geologi dan pemeriksaan Dinas Kesehatan, kualitas air sinkhole tersebut menunjukkan kandungan bakteri yang signifikan. “Kualitas air menunjukkan kandungan bakteri yang cukup tinggi,” ujar Wagub Sumbar Vasko Ruseimy di Kota Padang, Senin (12/1/2025), dilansir Antara.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Potential of Hydrogen (PH) atau potensi hidrogen air tersebut berada di bawah 6,5. “Oleh karena itu, pemerintah mengimbau dan mengingatkan agar masyarakat untuk tidak mengonsumsinya. Ibaratnya seperti air di sungai pada umumnya,” tegas Vasko.
Kajian Lanjutan dan Pengamanan Lokasi
Pemerintah Provinsi Sumbar bersama Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Badan Geologi, dan instansi terkait terus melakukan pemantauan serta kajian lanjutan. Tujuannya adalah untuk memastikan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Vasko berharap penjelasan ini dapat menjadi pedoman bagi masyarakat agar tidak keliru memanfaatkan air dari lokasi sinkhole. Ia menekankan bahwa fenomena ini murni proses alam dan tidak berkaitan dengan hal-hal mistis maupun klaim penyembuhan penyakit. “Tidak ada air ini (air sinkhole) untuk menyembuhkan penyakit atau demi kesehatan. Itu tidak ada,” tegasnya.
Selain itu, Wagub juga mengingatkan masyarakat untuk tetap mematuhi batas pengamanan yang telah ditetapkan. Pihak kepolisian telah memasang garis polisi dengan jarak aman minimal 50 meter dari bibir lubang, mengingat kondisi tanah yang masih berpotensi amblas.
TDS dan Besi Aman, E-Coli Jadi Kendala Utama
Dari hasil perhitungan cepat, Vasko menjelaskan bahwa kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) dalam air tersebut masih tergolong aman. Namun, tingginya kandungan bakteri E-Coli menjadi faktor utama yang membuat air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.
Kajian yang lebih mendalam masih terus dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi. Hasil kajian komprehensif nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis yang diserahkan kepada Bupati Limapuluh Kota untuk menentukan kebijakan lanjutan terkait pemanfaatan dan pengamanan kawasan tersebut.





