— Pameran HUT ke-46 Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranas) menampilkan ragam produk unggulan dari seluruh provinsi, termasuk Maluku Utara. Stan provinsi tersebut di Trans Studio Mall Makassar memamerkan batik tulis, tenun, kerajinan tangan, hingga batu bacan yang menarik perhatian pengunjung.

Acara berlangsung selama empat hari, mulai Rabu (8/7) hingga Sabtu (11/7). Pada Jumat (10/7), sejumlah produk khas Maluku Utara dipamerkan, merepresentasikan identitas daerah seperti Kota Ternate, wilayah Halmahera, dan Pulau Bacan.

Batik Tulis Motif Lokal

Batik tulis Maluku Utara menjadi salah satu daya tarik utama karena motifnya mengangkat kekayaan alam dan budaya setempat. Corak yang tampil antara lain rempah pala dan cengkeh, burung bidadari, batu bacan, serta jejak Kesultanan Ternate seperti Benteng Oranje dan Benteng Kastela.

“Paling sulit itu kan kita bikin (motif) khas batu bacan, kita melukisnya. Kalau dicetak atau diprint itu tidak bisa. Teknik-teknik lukis ini kita aplikasikan dalam batik,” kata pengrajin batik Mukhlis Abdul Rauf.

Harga sarung batik tulis yang dipamerkan berkisar Rp 625 ribu hingga Rp 1,2 juta, tergantung motif. Selain sarung, tersedia syal seharga Rp 300 ribu–Rp 400 ribu dan tas seharga sekitar Rp 200 ribu.

Tenun Rapudino dan Produk Ecoprint

Pengunjung juga dapat melihat tenun khas Kota Ternate bernama Rapudino. Tenun ini hadir dengan motif cengkeh, wajik, iris pandan, dan kombinasi bambu. Harga mulai dari Rp 1 juta untuk pewarna sintetis dan sekitar Rp 1,2 juta untuk pewarna alami.

Selain itu, stan menampilkan tas jinjing, gantungan tas, dan sepatu ecoprint yang dibuat dari berbagai jenis daun. Produk ecoprint dijual dengan kisaran harga Rp 55 ribu hingga Rp 285 ribu.

Kerajinan Tangan dan Miniatur

Beragam kerajinan tangan lain juga dipamerkan, seperti miniatur parang, salawaku, gelang, dan kalung hasil karya pengrajin lokal. Harga produk tersebut berkisar mulai Rp 30 ribu hingga Rp 400 ribu.

Batu Bacan dari Doko

Salah satu produk unggulan yang menjadi sorotan adalah cincin batu bacan asal Halmahera Selatan. Menurut pengrajin, batu bacan dari Desa Doko umumnya berwarna hijau dan mengandung mineral kalsedon serta krisokola yang menjadi ciri khasnya.

“Dia keunggulannya di situ (ada kandungan (mineral) krisokola dan (mineral) kalsedon), karena dia (batu bacan) metamorfosis berubah warna dari cokelat hitam berubah sampai bersih,” ujar pengrajin batu bacan Ikram.

Harga cincin batu bacan yang dipamerkan bervariasi, mulai dari Rp 700 ribu hingga yang termahal mencapai Rp 38 juta. Terdapat pula cincin Kalsedoni Obi nonserat sekitar Rp 8 juta, sementara jenis berserat dibanderol mulai Rp 1 juta.

Pameran produk dari berbagai provinsi pada rangkaian HUT ke-46 Dekranasda di TSM Makassar menyuguhkan beragam kerajinan khas daerah, termasuk koleksi-koleksi asli dari Maluku Utara yang dipamerkan sepanjang empat hari kegiatan.