Berita7 — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten mengonfirmasi adanya tujuh Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta yang berencana mengundurkan diri dari program sekolah gratis. Pengajuan pengunduran diri tersebut telah disampaikan secara resmi melalui surat kepada Dindikbud untuk segera ditindaklanjuti.
Sekretaris Dindikbud Provinsi Banten, Rachmat Tamam, pada Jumat (24/7/2026) menyatakan bahwa proses pendataan masih berlangsung. “Lagi direkap, lagi direkap ini. Ada tujuh lah berapa… tujuh sekolah mengundurkan diri,” ungkapnya.
Program sekolah gratis ini sebelumnya diikuti oleh 801 SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) pada tahun 2025. Dengan mundurnya tujuh sekolah tersebut, jumlah peserta program pada tahun 2026 diperkirakan menjadi 794 sekolah.
Hingga kini, Rachmat belum merinci alasan spesifik di balik keputusan sekolah-sekolah itu untuk mundur dari program yang digagas pemerintah provinsi. “Nanti kan kita juga harus lihat suratnya berdasarkan apa,” ujarnya.
Dindikbud berencana memanggil sekolah-sekolah yang mengajukan pengunduran diri untuk melakukan klarifikasi. Rachmat menekankan pentingnya proses yang sesuai prosedur, termasuk pembuatan berita acara pembatalan perjanjian. “Nanti kalau misalnya fix, kita panggil. Kan harus ada putus kontrak. Kita harus ada perubahan SK lagi dan lain-lain tahapannya, kan harus berita acara. Caranya benar, jangan sampai nanti hanya sepihak,” jelasnya.
Meskipun tidak menyebutkan nama sekolah secara spesifik, Rachmat menginformasikan bahwa beberapa sekolah yang mengajukan pengunduran diri berlokasi di Kota Cilegon dan Kabupaten Lebak. “Ada di Cilegon kemarin tuh ya, Lebak… Cuma saya belum paham, belum… belum secara menyeluruh,” tuturnya.
Dampak dari mundurnya sekolah-sekolah ini adalah siswa yang sebelumnya menikmati pendidikan gratis kemungkinan harus mulai membayar biaya sekolah pada tahun ajaran baru. Bagi siswa yang ingin tetap mendapatkan bantuan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Banten, mereka harus bersedia dipindahkan ke sekolah lain yang masih tergabung dalam program sekolah gratis. “Kalau misalnya mau lanjut berarti harus bayar. Kalau enggak, ya harus kita pindahkan ke sekitar sekolah PSG itu. Karena kan kita juga kasihan. Kan sekolahnya yang mundur, anaknya mau enggak?” kata Rachmat.
Ia menambahkan, “Kalau mau kita biayai sekolah gratis, ya harus pindah ke sekolah sekitar, kan gitu. Pasti akan banyak.”
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.