Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007, Sutiyoso, mengungkapkan rasa lega atas keputusan pembongkaran tiang-tiang proyek monorel yang telah mangkrak selama hampir 22 tahun di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Ia mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta saat ini, Pramono Anung, yang dinilainya memberikan kepastian.
Awal Mula Gagasan Monorel
Sutiyoso mengenang bahwa ide pembangunan monorel Jakarta pertama kali muncul pada awal tahun 2000-an. Tujuannya adalah untuk mencari solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas yang kian parah di ibu kota.
“Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” ujar Sutiyoso saat menghadiri peninjauan pemotongan tiang monorel di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Ia menceritakan bahwa pada masa jabatannya, ia mengumpulkan para pakar transportasi dari berbagai universitas untuk merancang sebuah sistem transportasi makro yang terintegrasi bagi Jakarta. Hasil kajian tersebut merekomendasikan empat moda transportasi utama: MRT bawah tanah, monorel di atas, busway, dan waterway.
Studi Banding dan Kendala Investor
Sutiyoso mengaku telah melakukan studi banding ke beberapa negara, termasuk Kolombia, Filipina, dan Thailand. Dari studi tersebut, monorel dinilai sebagai moda transportasi massal yang paling sesuai dengan kondisi kota besar seperti Jakarta.
Namun, ia menyadari bahwa kondisi sosial ekonomi pasca-kerusuhan Mei 1998 membuat kepercayaan investor terhadap Jakarta belum pulih sepenuhnya. Hal ini mendorongnya untuk memprioritaskan pembangunan moda transportasi yang tidak terlalu bergantung pada investor besar, yaitu busway.
“Kalau semua menunggu kondisi sempurna, sampai hari raya kuda juga enggak jadi. Maka yang bisa langsung dikerjakan ya busway,” tuturnya.
Proyek Monorel Terhenti
Meskipun demikian, pembangunan monorel tetap dijalankan secara paralel. Proyek ini bahkan sempat diresmikan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pada tahun 2004, dengan rencana investasi dari China.
Namun, masa jabatan Sutiyoso berakhir pada tahun 2007, dan proyek monorel tidak kunjung berlanjut. Ia mengaku tidak mengetahui detail kelanjutan proyek setelah ia tidak lagi menjabat.
“Setelah itu saya tidak tahu lagi. Tahu-tahu mangkrak dan jadi besi tua yang merusak estetika kota,” ungkapnya.
Keputusan Pembongkaran yang Realistis
Sutiyoso menilai bahwa mangkraknya proyek monorel selama lebih dari dua dekade menyisakan dua pilihan: dilanjutkan atau dibongkar. Ia berpendapat bahwa keputusan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk membongkar tiang-tiang monorel adalah langkah yang paling realistis.
“Ini memang pilihan paling buruk, tapi harus dilakukan. Yang penting ada kepastian,” tegasnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pramono dan jajaran Pemprov DKI atas keberanian mengambil keputusan tegas tersebut. Sutiyoso berharap penataan Jalan HR Rasuna Said dapat memperbaiki wajah kota dan menghilangkan sisa-sisa proyek yang terbengkalai.
“Mudah-mudahan kalau saya lewat ini nggak sakit mata lagi. Saya suatu saat yang selama ini terus terpikir gini aduh ya sedih aja ya gitu. Kan aku mulai itu jadinya kayak begini ya. Kepastian itulah yang diberikan oleh Gubernur Pramono dan itu adalah keputusan yang paling tepat, seenggak seenak apa pun mengeluarkan biaya harus kita lakukan,” ucapnya.






