Jakarta – Di tengah keterbatasan rumah petak di Duren Sawit, Jakarta Timur, Siti Sholeha (47) tak pernah padam semangatnya untuk sembuh dari gagal ginjal. Didampingi suaminya, Ibrahim, Siti rutin menjalani kontrol dan cuci darah di fasilitas BPJS Kesehatan.
Keinginan untuk kembali berkontribusi bagi keluarga, merasakan kebahagiaan bersama, dan menyaksikan kedua anaknya menikah kelak menjadi motivasi terbesarnya. Sebelum sakit, Siti dan Ibrahim bekerja keras dengan menawarkan jasa cuci dan gosok baju, serta berjualan gorengan, lontong, dan sambal kacang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Biasanya jual gorengan sama emak dan lainnya. Tapi sekarang sakit, paling ya bantu-bantu sebisanya aja,” ujar Siti kepada tim berbuatbaik.id saat ditemui di kediamannya.
Siti sempat kesulitan menerima kenyataan bahwa ia tak bisa lagi beraktivitas seperti dulu. Sakit yang dideritanya menghancurkan sendi perekonomian keluarga, memaksa mereka bergantung pada bantuan kerabat. Suami Siti, yang berprofesi sebagai pengojek, pun kesulitan mendapatkan panggilan karena harus mendampingi Siti menjalani rawat jalan dan rawat inap.
Selama lima bulan menjalani terapi cuci darah, Siti menyaksikan kondisi ekonomi keluarganya yang kian terpuruk. “Roda kehidupan terus berputar dan perlu biaya, padahal Siti dan suaminya sedang tidak punya penghasilan meski untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Kondisinya sempat memburuk hingga harus bolak-balik masuk Unit Perawatan Intensif (ICU) akibat sesak napas. Namun, Siti bertekad untuk lebih taat pada anjuran dokter agar kondisinya membaik dan tak lagi memerlukan perawatan intensif.
“Sebetulnya ini udah enakan dan bisa makan. Dulu sama sekali nggak bisa makan, berat badan turun dari 50 kg jadi 40-41 kg. Sekarang nggak boleh turun lagi berat badannya, karena nggak boleh cuci darah kalau terlalu kurus,” jelas Siti.
Ia berharap kesehatannya yang terus terpantau dapat membantunya perlahan kembali beraktivitas mandiri, tak lagi selalu bergantung pada suami, dan dapat membangun kembali kehidupannya. Siti juga berharap tak lagi membebani anak-anaknya, agar mereka bisa memiliki kehidupan sendiri.
Awal Mula Penyakit
Terapi cuci darah atau hemodialisa (HD) yang dijalani Siti berawal dari penyakit diabetes dan hipertensi yang dideritanya sejak 2012. Siti mengaku kadar gula dalam tubuhnya pernah mencapai 600 mg/dL dengan tekanan darah sistolik 200 mmHg.
“Sesek banget, tapi sebetulnya sudah minum obat. Akhirnya sama dokter disuruh HD, padahal saya mintanya pakai obat dulu aja,” kenang Siti.
Meskipun cuci darah bukan solusi yang ia inginkan, tindakan ini menjadi satu-satunya jalan baginya untuk kembali sehat dan berkumpul bahagia bersama keluarga. Siti menyambut peluang ini dengan semangat untuk sembuh dan patuh pada anjuran dokter.
Bagi Anda yang ingin membantu meringankan beban keluarga prasejahtera ini, dapat menyalurkan donasi melalui platform berbuatbaik.id. Bantuan Anda akan sangat berarti agar Siti dapat menjalani terapi tanpa kekhawatiran akan kebutuhan hidup sehari-hari.






