Depok, Jawa Barat – Fenomena tak lazim terjadi di SMP Negeri 3 Depok. Sejumlah siswa terpaksa membawa meja belajar dari rumah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kondisi ini menjadi sorotan publik, terutama mengingat sekolah tersebut baru saja menjalani renovasi besar-besaran dengan anggaran mencapai Rp 28 miliar.
Pantauan di SMPN 3 Depok, Jalan Barito Raya Nomor 3, Depok II Timur, Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, pada Jumat (23/1/2026), memperlihatkan beberapa siswa datang dengan menenteng meja lipat berukuran sekitar 50 cm. Meja-meja tersebut mereka bawa dari kediaman masing-masing.
Juru bicara sekolah, Nur, membenarkan adanya kekurangan fasilitas meja dan kursi. Ia menjelaskan bahwa kekurangan ini timbul karena pembagian aset dengan SMPN 33 yang sebelumnya sempat bergabung. “Yang kita paham ya, ini memang sudah, apa namanya, kondisinya memang masih kurang bangkunya karena memang sebelumnya itu kan kita bergabung sekolahnya dengan SMP 33 tuh,” ujar Nur.
Ia menambahkan, “Nah, sekarang kan kita sudah misah, nah sebagian itu memang kursi dari SMP 33 jadi dibawa kembali, nah memang kondisinya kurang. Tapi memang itu atas kesepakatan kami dengan orang tua sih, kan mereka membuat pernyataan gitu.”
17 Kelas Kekurangan Meja dan Kursi
Nur merinci, dari total 33 kelas yang ada, sebanyak 17 kelas masih mengalami kekurangan meja dan kursi. Kondisi ini berdampak pada sekitar 612 siswa yang terpaksa membawa meja lipat dari rumah.
“Kalau kita ada 33 kelas, kita kekurangan 17 ruangan berarti sekitar baru ada 16 kelas yang terisi. Untuk 16 kelas, kalaupun dibikin dua sesi, itu kan nggak cukup karena masih 33 kelas kan masih kurang,” jelasnya.
Ia memaparkan bahwa siswa yang terdampak membawa meja lipat adalah dari kelas 7 dan sebagian kelas 8. Sementara itu, pengadaan meja dan kursi yang sudah tersedia diprioritaskan untuk siswa kelas 9.
“Kalau yang sekarang tuh memang kan kalau kelas 9 tinggal sebentar lagi ya, jadi memang yang di-ini tuh (bawa meja lipat) kelas 7 sama sebagian kelas 8. Yang ada meja kursi difokuskan di kelas 9 dulu karena mereka sebentar lagi, ya berbagi, ada ujian, jadi lebih difokuskan di kelas 9,” tuturnya.
Lebih lanjut, Nur mengungkapkan bahwa siswa yang membawa meja lipat terpaksa belajar dengan duduk di lantai. Kebijakan ini telah diterapkan sejak sekolah diresmikan pada 8 Januari 2026.
“Iya, lesehan. Alas duduk mereka bawa masing-masing kalau emang perlu gitu. Iya (dilakukan sejak peresmian),” ungkapnya.
Nur menyampaikan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melalui Wali Kota tengah berupaya menangani masalah pengadaan meja dan kursi di SMPN 3.
“Ini sedang diusahakan sama Bapak Wali Kota. Memang, apalagi ini viral ya, jadi memang kayaknya kemarin kepala sekolah juga sampai dengan sekarang lagi ngurusin, kayaknya akan segera gitu. Belum tahu kapan, tapi mudah-mudahan secepatnya,” tutupnya.
Renovasi Rp 28 Miliar, Mebel Masih Kurang
SMPN 3 Depok sendiri diresmikan pada Kamis (8/1/2026). Wali Kota Depok, Supian Suri, dalam sambutannya saat peresmian, menyebutkan bahwa pembangunan sekolah tersebut menelan anggaran Rp 28 miliar.
“Ini merupakan wujud dari harapan dari banyak murid, banyak kepala sekolah yang beberapa kali berkesempatan bercerita tentang kondisi gedung. Dan alhamdulillah dengan dana Rp 28 miliar, kita bisa bangun ini dengan 33 ruang kelas sehingga berkecukupan hanya saja tadi mebeler yang masih kurang, yang mudah-mudahan kita bisa cukupkan pun nggak semuanya tapi setengahnya ya,” ujar Supian seperti dikutip dari kanal YouTube Pemkot Depok.






