Berita7 — Sebuah kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar dihantam proyektil di perairan lepas pantai Oman sesaat setelah meninggalkan Selat Hormuz, Selasa (7/7/2026) dini hari. Insiden menyebabkan kebakaran di atas kapal dan memicu kekhawatiran atas keamanan rute pelayaran energi global.
Peristiwa itu terjadi pada sekitar pukul 02.00 waktu setempat dan berlokasi sekitar 15 kilometer di timur Limah, Oman. Serangan diidentifikasi berasal dari drone atau rudal.
Detil Insiden
Kapal bernama Al Rekayyat dilaporkan menjadi sasaran. Konsultan keamanan melaporkan kebakaran di kapal setelah terkena serangan. Data pelacakan menunjukkan kapal milik perusahaan pelayaran negara Qatar, Nakilat, diduga berlayar dengan transponder padam saat melewati selat.
Lembaga pemantau lalu lintas maritim pernah mengeluarkan peringatan darurat sebelum insiden, meski tidak menyebut identitas kapal secara spesifik. Hingga laporan ini ditulis, QatarEnergy dan Nakilat belum memberikan komentar resmi.
Dampak Langsung pada Pasar Energi
Berita serangan langsung memengaruhi pasar komoditas. Harga gas alam di Eropa naik sekitar 4,5% pada perdagangan awal di Asia, sementara kontrak berjangka minyak mentah Brent turut naik.
Ketakutan penyebaran risiko membuat kapal lain mengubah rute. Kapal LNG Qatar lainnya, Al Areesh, yang menuju Port Qasim di Pakistan, dilaporkan membatalkan pelayaran dan memutar haluan tak lama setelah insiden.
Situasi Selat Hormuz
Sejak serangan udara AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu, Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi lalu lintas energi. Meski kesepakatan damai sementara bulan lalu sempat memulihkan sebagian lalu lintas kapal, jalur tersebut tetap rentan terhadap insiden militer dan pemblokiran rute.
Iran kerap menegaskan kendalinya atas selat tersebut dengan memblokir rute yang tidak mereka setujui atau menyerang kapal yang dianggap membangkang. Koridor utara yang disetujui Iran melayani sebagian besar pelayaran dalam beberapa hari terakhir, sementara rute Oman yang diawaki militer AS hanya dilalui sedikit kapal dengan transponder menyala.
Implikasi Diplomasi AS–Iran
Serangan terhadap Al Rekayyat menjadi tantangan bagi upaya pemulihan ekspor dari fasilitas LNG besar di Qatar dan muncul saat pembicaraan damai antara AS dan Iran sedang mandek. Pembicaraan lanjutan ditunda karena Iran menggelar prosesi pemakaman massal bagi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang akhir Februari 2026.
Qatar, sebagai mediator, menyatakan pertemuan berikutnya akan dijadwalkan setelah upacara pemakaman di Mashhad pada Kamis (9/7/2026).
Konsekuensi Jangka Pendek
Dengan belum adanya kesepakatan koridor tunggal yang disepakati militer AS dan garda nasional Iran, industri pelayaran global menghadapi fragmentasi rute dan ketidakpastian keamanan. Kontrol atas Selat Hormuz tetap menjadi faktor geopolitik yang menentukan arus energi dunia.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.