BANDA ACEH, 10 Januari 2026 – Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Pascabencana (Galapana) DPR RI melaporkan empat permasalahan pokok yang dihadapi dalam penanganan pascabencana di Aceh. Laporan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Satgas Galapana DPR bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Pemerintah di Banda Aceh, Sabtu (10/1/2026).
Empat Masalah Pokok Pascabencana
Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, T.A. Khalid, yang bertindak sebagai person in charge (PIC) dari DPR, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan berbagai pihak. Koordinasi ini melibatkan satgas di lapangan, serta seluruh bupati di Aceh yang terdampak bencana pada 1, 2, dan 4 Januari. Rapat lanjutan pada 5 Januari 2026 menjadi forum untuk menuntaskan berbagai aduan yang terhimpun.
“Tanggal 5 rapat kami laporkan semua, teman-teman dari PIC melaporkan dari lapangan kemudian ada permasalahan yang bisa kami selesaikan langsung di sini,” ujar T.A. Khalid. Ia menambahkan, “Komunikasi kami antarkementerian sangat luar biasa.”
Fokus pada Hunian Tetap Sementara (Huntara)
Salah satu isu krusial yang diangkat adalah mengenai hunian tetap sementara atau Huntara. Satgas Galapana DPR menerima masukan agar penyediaan Huntara lebih memperhatikan kebutuhan perempuan dan anak. Masukan ini dilaporkan berhasil diselesaikan.
“Kami laporkan alhamdulillah banyak hal yang bisa kami selesaikan,” kata Khalid, mengindikasikan keberhasilan dalam penanganan beberapa aspek.
Detail Permasalahan yang Dilaporkan
Empat permasalahan pokok yang menjadi fokus utama dalam rapat koordinasi tersebut meliputi:
- Masalah normalisasi sungai yang terdampak bencana.
- Percepatan penyediaan Huntara bagi pengungsi.
- Akses infrastruktur menuju daerah-daerah yang terisolir.
- Pembersihan rumah masyarakat yang mengalami kerusakan ringan.
Khalid menyoroti urgensi normalisasi sungai. “Sungai-sungai yang berefek pada banjir susulan karena masih ada kayu dan sebagainya, hujan 1 jam banjir,” jelasnya, menggambarkan potensi banjir susulan akibat kondisi sungai yang belum sepenuhnya pulih.






