TANGERANG SELATAN, Banten – Permasalahan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tak kunjung menemukan titik terang. Status tanggap darurat pengelolaan sampah yang telah diperpanjang hingga 19 Januari 2026 belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan penumpukan. Upaya pengalihan sampah ke daerah tetangga pun menghadapi penolakan.
Sampah Menumpuk, Solusi Sementara Terpal dan Penyemprotan
Sejak pertengahan Desember 2025, tumpukan sampah di sejumlah titik ruang publik Tangsel belum sepenuhnya terangkut. Sebagai solusi sementara, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel menutup sampah dengan terpal dan menyemprotkan cairan antibau. Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, pada Selasa (16/12/2025) menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
“Pertama-tama, kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Tangerang Selatan atas ketidaknyamanan yang terjadi. Terima kasih atas perhatian dan masukan dari masyarakat terkait tumpukan sampah di kawasan flyover Ciputat. Saya memahami betul dan merasakan keresahan warga karena persoalan sampah menyangkut langsung kenyamanan dan kesehatan,” ujar Benyamin.
Ia menjelaskan bahwa penutupan dengan terpal dan penyemprotan antibau bersifat sementara sambil menunggu penataan pengelolaan sampah di hilir. Flyover Ciputat menjadi fokus penanganan agar masalah serupa tidak terulang. “Dalam jangka pendek, sampah di lokasi tersebut saat ini sudah dilakukan pengangkutan secara bertahap,” jelasnya.
Status Darurat Diperpanjang
Berdasarkan Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.500-Huk/2025, Pemkot Tangsel menetapkan status tanggap darurat pengelolaan sampah mulai 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Namun, tumpukan sampah belum teratasi sepenuhnya, sehingga status darurat diperpanjang hingga 19 Januari 2026.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel, Essa Nugraha, menyatakan bahwa masa perpanjangan difokuskan pada optimalisasi pembersihan, pengangkutan sampah, dan penegakan perilaku buang sampah. “Perpanjangan ini untuk memastikan pelayanan kebersihan tetap maksimal dan kondisi kota kembali normal sepenuhnya,” kata Essa, mengutip Antara, Kamis (8/1/2026).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tangsel, Tb Asep Nurdin, menambahkan bahwa perpanjangan status darurat didasari hasil evaluasi tahap pertama yang masih menemukan tumpukan sampah memerlukan penanganan ekstra.
Penolakan dari Warga Serang
Kerja sama Pemkot Tangsel dengan Kota Serang untuk mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Taktakan, Kota Serang, menuai protes warga. Warga Taktakan mengeluhkan air lindi dari truk pengangkut sampah Tangsel yang mencemari jalanan dan menimbulkan bau tak sedap.
Salah satu perwakilan warga Taktakan, Yuda, mempertanyakan klaim persetujuan warga terhadap pengiriman sampah Tangsel. “Mohon ditunjukkan tanda tangan masyarakat yang setuju, biar kami tahu siapa saja yang setuju. Berarti ini bukan mengatasnamakan masyarakat Taktakan. Masyarakat Taktakan untuk sementara ini menolak. Saya sendiri merasakan baunya,” ujar Yuda, Selasa (6/1/2026).
Akibat protes tersebut, Kota Serang menghentikan sementara penerimaan sampah dari Tangsel untuk dilakukan evaluasi. Sekda Kota Serang, Nanang Saefudin, menyatakan penghentian uji coba yang baru berjalan beberapa hari ini dilakukan untuk perbaikan. “Ini kan baru uji coba beberapa hari. Kita hentikan dulu untuk dilakukan evaluasi. Saya pikir wajar masyarakat menyampaikan aspirasinya, baik dengan keras maupun lembut. Poinnya, kita akan melakukan perbaikan-perbaikan,” ujar Nanang.
Nanang menambahkan, Pemkot Serang berkomitmen membuka ruang dialog dengan warga yang menolak maupun menerima kebijakan tersebut. Keluhan warga terkait kondisi truk pengangkut yang rusak dan bau air lindi menjadi bahan evaluasi. Ketua Satgas Investasi Kota Serang, Wahyu Nurjamil, mengonfirmasi adanya keluhan mengenai air lindi yang masih menetes dan kondisi truk yang sebagian masih rusak.
Pengalihan ke Cileungsi
Menyikapi penghentian sementara penerimaan sampah di Serang, Pemkot Tangsel segera mengalihkan pembuangan sampah ke Cileungsi, Kabupaten Bogor. Sebanyak 200 ton sampah per hari akan dikirim ke Cileungsi selama 14 hari ke depan.
“Ke Cileungsi ini diambil untuk memastikan tidak ada tumpukan sampah di titik-titik pemukiman maupun ruang publik di Tangsel,” ujar Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, dikutip Antara, Kamis (8/1/2026).
Benyamin menegaskan bahwa Pemkot Tangsel tidak berhenti bekerja dan terus mengupayakan penanganan sampah. Penghentian pengiriman ke Cilowong bersifat sementara. “Saya sampaikan dengan tegas kepada masyarakat, Pemkot Tangsel tidak berhenti bekerja dan tidak menyerah. Penghentian pengiriman ke Cilowong ini bersifat sementara,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi ini menjadi momentum bagi Pemkot Tangsel untuk mempercepat pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh dan berkelanjutan, demi kemandirian dalam pengelolaan limbah di masa depan.






