Jakarta – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Puan Maharani, menerima kunjungan Ketua Majelis Nasional Republik Korea, Woo Won-Shik, di Gedung DPR, Jakarta, pada Jumat (23/1/2026). Pertemuan bilateral ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari kerja sama ekonomi, geopolitik, hingga penguatan hubungan sosial budaya kedua negara.
Budaya dan Pendidikan sebagai Perekat Hubungan
Puan Maharani menekankan pentingnya interaksi budaya dalam mempererat hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan. Menurutnya, kerja sama sosial budaya mampu menumbuhkan hubungan antar masyarakat secara alami, memperkuat saling pengertian, dan membangun ikatan emosional yang kuat.
“Melalui interaksi budaya, hubungan antar masyarakat tumbuh secara alami, memperkuat saling pengertian, dan membangun ikatan emosional,” ujar Puan dalam keterangan tertulis, Kamis (22/1/2026).
Ia juga menyoroti kesamaan nilai sosial antara kedua negara, seperti semangat gotong royong di Indonesia yang memiliki padanan dengan ‘sangbusangjo’ di Korea. “Semangat kerja bersama ‘gotong royong’ di Indonesia dan ‘sangbusangjo’ di Korea merupakan fondasi penting bagi eratnya hubungan antar masyarakat dan kolaborasi lintas komunitas,” imbuhnya.
Dalam bidang pendidikan, Puan mendorong penguatan kerja sama melalui program beasiswa dua arah, riset bersama, serta pertukaran dosen dan mahasiswa. Ia juga memandang pentingnya penguatan program bahasa, baik Bahasa Indonesia di Korea maupun Bahasa Korea di Indonesia, sebagai sarana melahirkan duta budaya dan memperluas pemahaman lintas generasi.
“Kami juga memandang penguatan program bahasa, baik Bahasa Indonesia di Korea maupun Bahasa Korea di Indonesia, sebagai sarana melahirkan duta budaya dan memperluas pemahaman lintas generasi,” tutur Puan.
Selain itu, Puan mendorong peningkatan program kepemudaan, jejaring kreatif, dan kolaborasi lintas komunitas. Ia meyakini pariwisata dan ekonomi kreatif juga semakin relevan untuk memperkuat hubungan antar masyarakat kedua negara.
“Kami meyakini bahwa pariwisata dan ekonomi kreatif semakin relevan bagi hubungan antar masyarakat kedua negara. Saya yakin kampanye pariwisata bersama dan peningkatan konektivitas akan sangat bermanfaat dalam hal ini,” jelasnya.
Apresiasi untuk Pekerja Migran Indonesia
Salah satu poin penting dalam pertemuan tersebut adalah apresiasi Puan Maharani terhadap penghargaan yang diberikan Pemerintah Korea Selatan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Sugianto (31). Sugianto, yang bekerja sebagai nelayan di Korea Selatan, menerima penghargaan atas aksinya menyelamatkan para lansia dari kebakaran hutan yang mengancam permukiman di Desa Uiseong, Yeongdeok, Gyeongsang Utara, pada Maret 2025.
Aksi heroik Sugianto, yang disebut sebagai ‘pahlawan tersembunyi’, mendapat pujian dari warga setempat. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Seoul pada Jumat (2/1). Sugianto juga dianugerahi Visa F-2 (visa residensi jangka panjang) dan membuka jalan untuk status penduduk tetap (F-5).
“Yang Mulia, izinkan saya juga menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diberikan Presiden Republik Korea kepada Bapak Sugianto, seorang Warga Negara Indonesia atas aksi kemanusiaannya membantu warga lanjut usia yang terdampak musibah kebakaran hutan di Korea Selatan,” ungkap Puan.
“Tindakan tersebut mencerminkan kepedulian, keberanian, dan semangat gotong royong yang menjadi nilai luhur masyarakat Indonesia dan diapresiasi oleh masyarakat Korea,” lanjutnya.
Menanggapi pernyataan Puan, Ketua Parlemen Korsel Woo Won-Shik menyatakan rasa haru dan hormat atas aksi kepahlawanan Sugianto.
Sejarah Gedung DPR dan Diplomasi Indonesia
Usai pertemuan bilateral, Puan Maharani mengajak Woo Won-Shik beserta rombongan untuk menikmati jamuan makan siang dan melakukan tur di Gedung DPR. Puan menjelaskan bahwa Gedung Kura-Kura, tempat pertemuan berlangsung, dibangun pada tahun 1960-an sebagai bagian dari penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO).
“Gedung ini sebuah gagasan strategis Presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, yang kebetulan juga adalah kakek saya,” papar Puan.
Ia menambahkan bahwa Gedung Kura-Kura DPR dirancang sebagai simbol aspirasi negara-negara berkembang untuk memiliki suara dan peran yang setara dalam tatanan global. “Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia,” tegas Puan.
Di akhir pertemuan, Puan mengapresiasi kunjungan Woo Won-Shik ke DPR RI dan dialog yang hangat serta produktif. “Terima kasih atas kunjungan Yang Mulia ke DPR RI, dan atas dialog yang hangat dan produktif pada hari ini. Gamsahabnida!” pungkasnya.
Dalam pertemuan tersebut, Puan didampingi oleh Wakil Ketua Komisi XI DPR Dolfie Othniel Frederic Palit, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris, Anggota Komisi XII DPR Shanty Alda Nathalia, serta sejumlah anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR.






