— Ketua DPR RI Puan Maharani mengangkat kembali hubungan historis antara Presiden pertama RI, Soekarno, dan India saat menyambut kedatangan Perdana Menteri India Narendra Modi di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (7/7/2026).

Dalam pidato kehormatan, Puan menekankan akar hubungan yang menurutnya panjang dan istimewa, termasuk peran Soekarno sebagai tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India pertama pada 26 Januari 1950.

Kontribusi pada Konferensi Asia-Afrika

Puan menyebut kedekatan personal antara Soekarno dan pemimpin-pemimpin India pascakemerdekaan ikut mendorong lahirnya Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Menurutnya, pertemuan itu menjadi pijakan bagi terbentuknya Gerakan Non-Blok.

Asal-Usul Gedung Parlemen

Selain aspek diplomatik, Puan juga menyinggung sejarah pembangunan kompleks Senayan. Ia mengatakan gedung DPR/MPR yang megah saat ini awalnya dirancang untuk mendukung diplomasi negara-negara dunia ketiga dan dibangun pada 1965 sebagai bagian dari rencana penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces atau CONEFO.

Menurut Puan, CONEFO merupakan gagasan Soekarno yang mencerminkan aspirasi negara-negara berkembang untuk memiliki posisi tawar setara dalam tatanan global. “Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia,” ujarnya.

Pemerintahan Kontemporer

Puan menegaskan fondasi hubungan bilateral antara Indonesia dan India terus dirawat secara konsisten hingga era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Poros Diplomatik Asia-Afrika

Pidato Puan juga merujuk pada poros diplomatik antara Soekarno dan Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru. Pasca-Perang Dunia II, kedua tokoh disebutnya memelopori solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk melawan bekas pengaruh imperialisme Barat dan menghindari tarikan Perang Dingin.

Puan menambahkan bahwa kehadiran Soekarno sebagai tamu utama pada Republic Day India pada 1950 bukan sekadar seremonial, melainkan simbol pengakuan timbal balik atas kedaulatan kedua negara.

Pergeseran Fungsi CONEFO

Puan menjelaskan, pembentukan CONEFO pada pertengahan 1960-an merupakan langkah radikal untuk menandingi dominasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang kala itu dinilai berpihak pada negara-negara pemenang perang. Guna mewadahi The New Emerging Forces, Soekarno memerintahkan pembangunan kompleks olahraga dan konferensi raksasa di Senayan melalui rancangan arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo.

Meskipun CONEFO tidak jadi digelar akibat pergolakan politik pada akhir 1965, kompleks berarsitektur beratap sayap burung itu kemudian dialihfungsikan menjadi Gedung DPR/MPR dan tetap berdiri sebagai monumen dari cita-cita politik luar negeri Indonesia yang bebas, aktif, dan berwibawa.