Lebak – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, penyajian makanan untuk ratusan siswa tersebut berisi telur dan jagung yang masih mentah. Kejadian ini menambah daftar panjang keluhan terkait kualitas program yang diselenggarakan oleh Yayasan Amanah Permas Agung.
Keluhan Berulang Terkait Kualitas Makanan
Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Cigemblong, Pepi Habibi, membenarkan adanya temuan telur mentah dalam program MBG pada Jumat (23/1/2026). Ia mengungkapkan bahwa sekitar 100 porsi dari total 227 siswa penerima MBG hari itu bermasalah. “Sekitar 100 porsi dari total 227 siswa penerima MBG hari itu bermasalah,” ujar Pepi.
Pepi menambahkan bahwa ini bukan kali pertama program MBG di sekolahnya mendapatkan catatan buruk. Ia merinci beberapa insiden sebelumnya, termasuk ditemukannya belatung pada sayuran pada 12 Januari lalu, serta buah melon yang dibagikan dalam kondisi berlendir. “Pertama ditemukan belatung pada sayuran, kedua buah melon yang dibagikan sudah berlendir, ketiga telur mentah. Ini berulang,” ungkapnya.
Dalam sebuah video yang beredar, tampak beberapa ompreng berisi buah lengkeng, susu, dan tahu. Namun, seorang guru pria dalam video tersebut menunjukkan dengan jelas telur yang masih mentah dan potongan jagung yang belum dimasak. “Makanan MBG di SMA 1 Cigemblong kondisi MBG-nya tidak layak. Telurnya masih mentah, jagungnya juga mentah. Masa siswa harus memasak sendiri? Di sekolah dari mana kompor untuk memasak?” keluh guru tersebut.
Pihak Yayasan Mengaku Kelalaian Petugas
Menanggapi hal ini, Kepala SPPG dari Yayasan Amanah Permas Agung, Rasudin, mengakui adanya sekitar 15 kilogram telur mentah yang terdistribusikan ke siswa SMAN 1 Cigemblong. “Sekitar 15 kilogram,” katanya.
Rasudin mengklaim bahwa kejadian ini bukan merupakan unsur kesengajaan, melainkan murni kelalaian petugas dapur dalam proses pengemasan. Ia menjelaskan bahwa posisi telur mentah dan matang berdekatan sehingga tercampur. “Ini bukan unsur kesengajaan, melainkan kelalaian dalam proses kerja,” jelasnya.
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, Rasudin menyatakan akan memperketat pengawasan dan meningkatkan kedisiplinan petugas. Fokus utama akan diberikan pada kebersihan dan keamanan pangan. “Setiap tahapan harus dicek berulang kali. Kalau semua dijalankan sesuai prosedur, kejadian seperti ini bisa dihindari,” tutupnya.






