— JAKARTA – Di Desa Wae Moto, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sebuah wilayah yang termasuk dalam kategori terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sekolah menjadi lebih dari sekadar tempat belajar. Di tengah keterbatasan akses, SD Inpres Wae Moto menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk memelihara harapan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Pendidikan di Wae Moto dipandang sebagai kunci untuk memutus rantai keterbatasan dan menciptakan kesempatan yang lebih luas. Namun, semangat belajar anak-anak dihadapkan pada kondisi sarana belajar yang masih memerlukan perbaikan, mulai dari infrastruktur sekolah hingga fasilitas sanitasi dan kebersihan yang belum memadai.

Dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 yang bertema ‘Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan’, PNM melalui program PNM Peduli memberikan dukungan melalui revitalisasi SD Inpres Wae Moto. Langkah ini merupakan wujud kepedulian yang diterjemahkan dalam perbaikan lingkungan belajar.

Semangat belajar yang tinggi ditunjukkan oleh Mariva Yankezia, seorang siswi berusia 10 tahun. Ia mengaku tetap bersemangat bersekolah karena menyadari perjuangan orang tuanya. “Saya tetap semangat sekolah karena saya tahu orang tua saya bekerja keras supaya saya bisa menimba ilmu. Saya ingin belajar sungguh-sungguh agar bisa membanggakan mereka,” tuturnya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).

Kalimat sederhana Mariva mencerminkan kesadaran banyak anak di Wae Moto akan pengorbanan orang tua mereka. Bagi mereka, pendidikan bukan hanya kewajiban, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjuangan keluarga.

Melalui PNM Peduli, perbaikan dilakukan pada ruang belajar agar lebih aman dan nyaman, perbaikan fasilitas sanitasi, serta penambahan sarana dan prasarana sesuai kebutuhan yang dikoordinasikan dengan pihak sekolah. Upaya ini didasari keyakinan bahwa lingkungan belajar yang layak sangat penting untuk membentuk kualitas pendidikan.

Di wilayah yang masih menghadapi tantangan akses air bersih dan sanitasi, penyediaan sarana kebersihan tidak hanya mendukung kesehatan siswa, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang lebih manusiawi. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.

Direktur Utama PNM, Kindaris, menekankan peran PNM dalam pemberdayaan ibu nasabah Mekaar yang berimplikasi pada kesejahteraan anak-anak mereka. “Pemberdayaan bukan sekedar memberikan permodalan, tapi yang tak kalah penting pendampingan usaha sehingga manfaatnya dirasakan oleh keluarga terutama anaknya. Saya berharap 15 tahun lagi, saat mereka sudah bisa mulai menggapai cita-citanya, mereka akan ingat bahwa hari ini PNM percaya pada mimpi-mimpi mereka,” ujar Kindaris.

Bagi PNM, pemberdayaan mencakup masa depan anak-anak nasabah. Di SD Inpres Wae Moto, 14 dari 64 siswa adalah anak dari nasabah PNM Mekaar. Melalui PNM Peduli, PNM berupaya menyediakan ruang belajar, fasilitas sanitasi, serta sarana sekolah yang lebih layak agar anak-anak dapat belajar dengan aman, sehat, dan terus menyalakan mimpi mereka.