Berita7 — JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi menutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pancawaluya Tahun 2026. Penutupan ini ditandai dengan pelaksanaan aksi ekologi yang dipusatkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung.
Kegiatan aksi ekologi ini dilaksanakan serentak di 882 titik sekolah negeri di seluruh Jawa Barat, dengan pemusatan utama di 27 kabupaten/kota. Total partisipasi peserta didik baru kelas X SMA, SMK, dan SLB, baik dari sekolah negeri maupun swasta, mencapai 343.374 orang. Mayoritas peserta, sebanyak 327.604 orang, berasal dari sekolah negeri.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman, menekankan bahwa aksi ekologi ini bukan sekadar penutup MPLS, melainkan merupakan awal dari pembentukan karakter yang harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari para siswa.
“Kegiatan ini hanya simbolis. Yang paling penting adalah gerakan nyata setelah kembali ke rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat,” ujar Herman dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (23/7/2026).
Herman mengajak para peserta didik untuk membiasakan diri terlibat dalam berbagai kegiatan domestik. Hal ini dianggap sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter, seperti menyapu rumah, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, membantu orang tua berdagang, bertani, hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut merupakan latihan untuk membangun kepemimpinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. “Cara terbaik meramal masa depan adalah menciptakannya hari ini. Mulailah dari hal-hal kecil, sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten. Kebiasaan baik itulah yang akan membentuk karakter dan mengantarkan kalian menjadi pemimpin di masa depan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari karakter dan soft skills yang terbentuk melalui kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya Peduli Lingkungan Dimulai dari Sekolah
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar, Purwanto, menjelaskan bahwa aksi ekologi merupakan bagian dari praktik pedagogik dalam implementasi pendidikan karakter Pancawaluya. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi budaya di seluruh satuan pendidikan.
“Aksi ekologi bukan kegiatan satu hari. Ini adalah praktik pembelajaran yang harus menjadi kebiasaan di sekolah. Dimulai dari menjaga kebersihan diri, kelas, halaman sekolah, hingga lingkungan sekitar sebagai bagian dari pendidikan karakter,” ungkapnya.
Purwanto memaparkan bahwa pelaksanaan Aksi Ekologi dilakukan secara kolaboratif dengan berbagai pihak, termasuk River Clean Up Indonesia, Komunitas Sapulidi, perangkat daerah, TNI, Polri, serta berbagai komunitas peduli lingkungan lainnya.
Di tingkat provinsi, para peserta melakukan berbagai aksi nyata seperti operasi semut, membersihkan kawasan dan sungai, serta merawat area makam para pahlawan. Mereka juga mendapatkan edukasi mengenai pelestarian lingkungan yang disampaikan oleh River Clean Up Indonesia dan Komunitas Sapulidi Disdik Jabar.
Selain kegiatan yang dipusatkan di TMP Cikutra, aksi ekologi juga diselenggarakan di SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung bersama Pandawara Group, serta di seluruh satuan pendidikan di Jawa Barat. Diharapkan, semangat menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan tidak hanya berhenti pada pelaksanaan MPLS, tetapi terus tumbuh menjadi budaya dalam kehidupan peserta didik sebagai wujud nyata karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Ikuti Berita7
