Berita

Menteri PU Khawatir Jembatan Darurat Sumatera Ambruk Akibat Truk Overload

Advertisement

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi jembatan sementara di daerah terdampak bencana Sumatera. Meskipun jembatan tersebut telah dapat digunakan, Dody khawatir akan potensi ambruknya jembatan akibat seringnya dilintasi truk dengan muatan melebihi kapasitas.

Jembatan-jembatan yang baru dibangun ini difokuskan untuk tanggap darurat dan pengiriman logistik. Kapasitas maksimal jembatan fungsional hanya mencapai 20 ton, sementara kendaraan yang melintas terkadang mencapai 40 ton. “Dengan jembatan-jembatan fungsional yang maksimum hanya bisa dilalui 10 sampai 20 ton, kami sering dikomplain. Pak, tim Bapak juga sering komplain ke kami, kapan ini dibuat permanennya. Makanya kemudian agak-agak susah di Kementerian PU itu membedakan mana tanggap darurat, mana rehab-rekon,” ujar Dody dalam rapat satgas di kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).

Kekhawatiran ini mendorong Kementerian PU untuk memprioritaskan pembangunan jembatan permanen. Dody mengungkapkan bahwa truk-truk bermuatan berat kerap melintas pada malam hari tanpa terpantau, sehingga berisiko merusak struktur jembatan. Meskipun telah berulang kali diumumkan agar truk tidak melebihi batas 20 ton, kebutuhan mendesak seperti BBM, LPG, dan beras seringkali mendorong pengiriman melebihi kapasitas.

“Jadi saya mohon maaf, sekali lagi saya mohon maaf, ada beberapa jembatan fungsional yang hari ini sudah mulai progres mengarah ke tahapan permanen, Pak. Karena mengejar itu tadi, takut kalau saya diamkan kemudian itu ambruk gitu , nanti yang dihujat saya juga ujung-ujungnya,” ungkapnya.

Pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 bulan. Selama proses tersebut, jembatan fungsional akan terus diperiksa secara berkala setiap dua minggu untuk memastikan kekuatannya. “Jadi, nah, sementara waktu kami mengerjakan secara permanen, karena butuh waktu sekitar 7 sampai 8 bulan, Pak, jembatan-jembatan fungsional ini secara berkala, secara dua mingguan kita cek, Pak, strukturnya. Dan biasanya tiap dua minggu itu pasti kita harus lakukan perkuatan,” imbuhnya.

Kondisi Jalan Nasional dan Daerah

Secara terpisah, Dody melaporkan bahwa jalan nasional di Sumatera telah 100 persen fungsional sejak 30 Desember 2025. Percepatan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran pengiriman logistik. “Jalan nasional kita memang paksakan bisa fungsional 100% secepat-cepatnya. Dan alhamdulillah, terakhir itu di 30 Desember, Pak, 30 Desember 2025, semua jalan nasional itu bisa fungsional, Pak. Memang, memang yang kita kejar hari ini, kemarin itu adalah fungsionalnya dulu, Pak. Agar logistik itu bisa lancar,” jelasnya.

Advertisement

Namun, satu ruas jalan nasional di Sumatera Utara, yaitu Tarutung-Sibolga, masih dalam perbaikan untuk dapat digunakan sementara. Dody mengakui kesulitan membedakan antara status tanggap darurat dan rehabilitasi-rekonstruksi untuk ruas jalan tersebut.

Untuk jalan antardaerah, tingkat fungsionalitas baru mencapai 90 persen. Pihaknya masih melakukan pendataan dan menyiapkan trase baru untuk area yang mengalami kerusakan parah. “Jalan daerah itu sudah boleh dibilang sudah 90%. Memang jalan-jalan yang masuk-masuk ke dalam memang masih banyak yang kurang. Nah itu sedang kita kejar, hari ini teman-teman Balai di seluruh tempat, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sedang mendata dan, dan sekalian, sekaligus menyiapkan trase-trase baru kalau memang sudah jalan itu benar-benar ambles,” ujarnya.

Beberapa daerah di Aceh dilaporkan masih terputus aksesnya, bahkan ada yang hilang total. “Jadi seperti pengalaman kemarin kami ke Bireun dan beberapa tempat lain, memang ada beberapa jalan desa yang hubungan antardesa yang memang sudah benar-benar hilang, sehingga harus membuat trase baru,” ungkapnya.

Jembatan Daerah Masih Terkendala

Sementara itu, jembatan nasional telah mencapai 100 persen fungsional. Namun, jembatan penghubung antardaerah baru terhubung sekitar 43 persen. Kementerian PU sedang mempercepat pembangunan jembatan perintis untuk memastikan mobilitas masyarakat tidak terganggu. “Jembatan nasional 100% sudah, sudah terhubung secara fungsional, Pak. Cuman jembatan-jembatan daerah memang baru, baru terhubung sekitar 43%. Kita sedang, sedang percepatan membuat jembatan-jembatan perintis agar mobilitas masyarakat tidak, tidak terganggu,” kata Dody.

Advertisement