Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka mendalam atas tragedi seorang siswa sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga meninggal dunia akibat bunuh diri karena tidak mampu membeli peralatan tulis. Peristiwa memilukan ini, menurut Gus Ipul, harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak.
Perhatian Serius atas Tragedi di NTT
“Tentu kita prihatin dulu ya dan turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul dalam keterangannya pada Rabu, 4 Februari 2026. Pernyataan ini disampaikan Gus Ipul usai menghadiri pertemuan sejumlah tokoh pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 3 Februari kemarin.
Penguatan Data dan Pendampingan Keluarga Rentan
Lebih lanjut, Gus Ipul menekankan pentingnya penguatan data dan pendampingan yang lebih intensif bagi keluarga yang masuk kategori rentan. Ia menegaskan bahwa ketersediaan data yang akurat dan mutakhir adalah kunci agar tidak ada satu pun keluarga yang terlewat dari jangkauan program perlindungan sosial.
“Ya tentu bersama pemerintah daerah, kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” tegas Gus Ipul.
Ia menambahkan, “Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan. Ya jadi itu, sampai disitu dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian kita bersama.”
Kronologi Awal Dugaan Bunuh Diri Siswa SD di Ngada
Sebelumnya, seorang anak berinisial YBR (10), siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT pada Kamis, 29 Januari 2026. Saat melakukan evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban. Surat berbahasa daerah Bajawa tersebut ditujukan kepada ibunya. Pihak kepolisian masih terus mendalami latar belakang peristiwa ini, termasuk dugaan kekecewaan korban yang tidak dibelikan peralatan tulis oleh ibunya akibat kendala ekonomi keluarga.






