Berita7 — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai tahun 2026 mencapai Rp320,6 triliun. Angka ini setara 95,4% dari target pagu anggaran yang ditetapkan sebesar Rp336 triliun, atau menandai kekurangan Rp15,4 triliun.
Proyeksi tersebut disampaikan Purbaya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat pada Selasa (7/7/2026). Ia menyebut outlook dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan internasional dan efektivitas pengawasan terhadap barang kena cukai ilegal.
“Untuk kepabeanan dan cukai, outlook-nya diperkirakan sebesar Rp320,6 triliun atau tumbuh 6,8%, karena dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan internasional serta efektivitas pengawasan terhadap barang kena cukai ilegal,” ujar Purbaya.
Hingga akhir semester I-2026, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat sekitar Rp152 triliun atau 45,2% dari target APBN, dengan pertumbuhan 3,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Purbaya memaparkan rincian komponen penerimaan. Realisasi cukai mencapai Rp109,4 triliun, tumbuh 0,6% dari tahun sebelumnya, yang dipengaruhi oleh stabilnya produksi hasil tembakau dan meningkatnya produksi minuman mengandung etil alkohol.
Di sisi lain, realisasi bea masuk tercatat Rp26,3 triliun atau naik 11,3% year-on-year. Menurut Purbaya, kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong yang mendukung aktivitas industri nasional.
Realisasi bea keluar juga menunjukkan penguatan, mencapai Rp16,4 triliun atau tumbuh 11,7% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, yang mendapat dukungan dari penguatan harga minyak kelapa sawit di pasar internasional.
Meski demikian, Purbaya mengingatkan pemerintah masih memantau sejumlah risiko eksternal. “Meskipun demikian, pemerintah tetap mencermati berbagai risiko eksternal, termasuk ketidakpastian perdagangan global dan volatilitas harga komoditas, yang berpotensi memengaruhi penerimaan pada semester II-2026,” jelasnya.
Ikuti Berita7
