Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memaparkan perkembangan wilayah Sumatera pascabencana banjir dan tanah longsor yang menerjang beberapa waktu lalu. Tito mengungkapkan bahwa masih ada 17 wilayah di Aceh hingga Sumatera Barat yang membutuhkan perhatian khusus.
Pernyataan ini disampaikan Tito saat konferensi pers di kediamannya, Widya Chandra, Jakarta Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Ia menjelaskan bahwa perkembangan ini merupakan hasil rapat dengan seluruh kepala daerah di Sumatera beberapa hari sebelumnya.
Evaluasi Kebutuhan Pascabencana
Tito merinci indikator yang dievaluasi, mencakup sarana kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, serta sarana pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA/SMK. Selain itu, akses jalan darat, ekonomi seperti pasar dan toko, serta rumah ibadah juga menjadi perhatian.
“Bagaimana dengan akses jalan darat, jalan nasional, provinsi, kabupaten, kota, jalan desa, jembatan. Ekonominya gimana, pasar sudah buka belum, toko-toko, warung-warung, hotel, penginapan ya. Kemudian juga saya menanyakan apa… apakah rumah ibadah ada yang rusak dan seterusnya. Dan kemudian juga hal yang paling penting mendasar untuk kehidupan, yaitu mulai dari listrik, internet ya, kemudian air minum, SPBU, LPG gitu, gas ya,” ujar Tito.
Ia memastikan bahwa pemetaan perkembangan di setiap wilayah terdampak bencana telah dilakukan. Dari pemetaan tersebut, diketahui ada 52 kabupaten/kota di tiga provinsi yang terdampak. Sebagian sudah normal, mendekati normal, dan sebagian lainnya memerlukan atensi.
Wilayah yang Memerlukan Atensi Khusus
Tito membeberkan rincian wilayah yang masih membutuhkan penanganan lebih lanjut:
- Sumatera Barat: Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
- Sumatera Utara: Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.
- Aceh: Aceh Tamiang (tercatat paling berat), Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.
“Nah, kemudian di Aceh saya menyampaikan ada yang normal seperti Kabupaten Aceh Besar ya. Tapi ada juga yang mendekati normal, ada juga yang memerlukan atensi khusus. Setidaknya saya catat ada delapan ya. Satu, Aceh Tamiang yang paling berat, Aceh Timur, Aceh Utara, kemudian Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues, dan satu lagi Aceh Tengah, Takengon ibukotanya, ini di gunung,” imbuhnya.






