— JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan pesan penting dari Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, terkait peristiwa Kerusuhan 27 Juli atau Kudatuli. Menurut Hasto, Megawati menekankan bahwa demokrasi yang sehat memerlukan pers yang bebas, pendidikan politik yang baik, serta penegakan hukum yang berkeadilan tanpa pandang bulu.

“Demokrasi memerlukan pers yang bebas, memerlukan pendidikan politik yang baik dan kehidupan demokrasi yang sehat, serta hukum yang betul-betul berkeadilan, hukum yang tidak tebang pilih,” ujar Hasto saat ditemui wartawan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Selasa (21/7/2026).

Hasto melanjutkan, Megawati juga berpesan agar demokrasi harus mampu memperkuat karakter politik. Ia juga menekankan pentingnya kebebasan bagi warga untuk berserikat dan berkumpul dalam menyampaikan aspirasi mereka.

“Demokrasi harus hidup dengan terang kemanusiaan, memperjuangkan kebenaran, dan memperkuat watak politik yang memperjuangkan agar rakyat betul-betul dapat secara merdeka menyampaikan seluruh kehendaknya untuk berserikat, berkumpul, dan menyampaikan aspirasinya,” jelas Hasto menirukan pesan Megawati.

Lebih lanjut, Megawati mengingatkan agar praktik politik tidak dicemari oleh fitnah. Ia menekankan perlunya menjauhkan diri dari upaya-upaya mendiskreditkan, termasuk yang menyerang aspek pribadi.

“Ibu Mega juga mengingatkan bagaimana politik yang sering bising karena berbagai upaya-upaya untuk mendiskreditkan, termasuk dari aspek-aspek pribadi, harus dijauhkan dan politik tidak boleh dengan fitnah,” katanya.

Peristiwa Kudatuli merupakan insiden kekerasan yang terjadi di kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 27 Juli 1996. Peristiwa ini diduga berakar dari perebutan kantor partai antara kubu yang dipimpin Megawati Soekarnoputri dan kubu Soerjadi, meskipun banyak pihak meragukan penyebab tunggal tersebut.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melaporkan bahwa insiden tersebut menyebabkan lima orang meninggal dunia, 149 orang luka-luka, dan 23 orang hilang. Kerugian materiil akibat kerusuhan ini diperkirakan mencapai Rp 100 miliar.