Berita

Longsor 120 Meter di Ngarai Sianok Agam Akibat Hujan Deras, Warga Krisis Air Bersih

Advertisement

AGAM, SUMATERA BARAT – Tebing Ngarai Sianok di Guguak Tinggi, Ampek Koto, Agam, Sumatera Barat, dilaporkan longsor dengan ketinggian mencapai 120 meter dan lebar 15 meter. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam durasi yang lama.

Penyebab dan Dampak Longsor

Kepala Desa Guguak Tinggi, Dasman, menjelaskan bahwa hujan deras yang berlangsung lama menjadi pemicu utama longsor yang puncaknya terjadi pada Kamis (1/1/2025). “Hujan deras dengan durasi lama menjadi pemicunya, puncaknya terjadi di Kamis (1/1) lalu. Beruntung tidak ada korban jiwa,” ujar Dasman, Minggu (4/1/2025).

Lokasi longsor, yang dinamakan warga setempat Ngarai Kaluang, berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga. Meskipun tidak ada korban jiwa, beberapa sawah milik warga dilaporkan ikut terkikis akibat material longsoran. Pemerintah desa setempat telah melaporkan kejadian ini kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam.

Koordinasi dan Peringatan Warga

Dasman menambahkan bahwa longsor di area tersebut bukan kali pertama terjadi. “Longsor itu tidak sekali terjadi, sudah beberapa kali. Kami berkoordinasi dengan pihak terkait khususnya di aliran Ngarai Sianok di Bukittinggi untuk cepat menjauh dari aliran sungai saat longsor terjadi,” tuturnya.

Meskipun pergerakan tanah di bibir ngarai masih tergolong jauh dan aman dari pemukiman, warga tetap diimbau untuk tidak mendekati area tersebut saat beraktivitas bertani atau berkebun. Tidak ada warga yang dievakuasi karena kondisi dianggap masih aman.

Advertisement

Krisis Air Bersih dan Dampak Ekonomi

Kejadian longsor ini juga berdampak pada pasokan air bersih warga. Saat longsor terjadi, lima warga sedang memperbaiki bak air yang dialirkan untuk kebutuhan rumah tangga. “Saat kejadian, lima warga kami sedang memperbaiki bak air yang dialirkan untuk rumah warga. Kami mengalami krisis air bersih saat ini,” ungkap Dasman.

Rahmat (35), seorang warga di sekitar aliran Sungai Ngarai Sianok, menuturkan bahwa debit air dari hulu meningkat signifikan sejak bencana banjir bandang pada akhir November 2025. “Titik longsor hanya sebagian kecil di sini, tapi aliran air sungai makin membesar dan merusak fasilitas jalan. Satu mushala bagi pengunjung juga roboh,” kata Rahmat.

Dampak dari serangkaian bencana ini membuat wisatawan enggan berkunjung ke Ngarai Sianok, yang berimbas pada penurunan aktivitas perekonomian. “Saya berusaha rental pelampung, ada juga rental mobil offroad. Kini belum beraktivitas maksimal karena wisatawan takut berkunjung sejak bencana,” keluhnya.

Advertisement