Berita

Legislator DPR Tinjau Workshop Pupuk Organik Kolaborasi Unsoed dan Napi Nusakambangan

Advertisement

Rombongan legislator dari Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Selasa (10/2/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk mengawasi kinerja pembinaan terhadap warga binaan pemasyarakatan (napi) yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas).

Setelah meninjau Balai Latihan Kerja (BLK) Fly Ash Bottom Ash (BLK FABA), rombongan melanjutkan kunjungan ke BLK Pengolahan Pupuk Organik Nusakambangan. Di lokasi tersebut, lima narapidana terlihat tengah sibuk mengayak dan mengaduk kotoran hewan yang akan diolah menjadi pupuk organik.

Inovasi Pupuk Organik dari Jeroan Sapi

Pendamping BLK Pengolahan Pupuk Organik Nusakambangan, Agustina Setyaningrum, menjelaskan bahwa bahan dasar pupuk organik ini berasal dari kotoran sapi, domba, kelelawar, dan ayam. Agustina, yang juga merupakan peneliti dari Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto, telah mendampingi dan melatih para napi sejak BLK ini dibangun oleh Ditjenpas Kemenimipas.

Dalam kesempatan tersebut, Agustina memaparkan penemuan formula baru dari jeroan sapi yang mampu menekan bau menyengat dari pupuk kandang. “Sekarang sudah ada progres hasil temuan inovasi baru dari kami, cairan aktivator dari jeroan sapi untuk mengolah kompos lebih cepat. Proses (pengomposan)-nya lebih cepat, sehingga pencemaran lingkungan (akibat bau kompos) cepat teratasi. Aktivator ini menekan proses (fermentasi kompos) kurang dari 21 hari,” terang Agustina.

Sejumlah legislator yang hadir tampak mencium aroma cairan aktivator tersebut dari mulut botol. Kesan yang muncul adalah bau cairan tersebut menyerupai tape, tidak menyengat seperti aroma kotoran hewan pada umumnya.

Kualitas dan Harga Pupuk Buatan Napi

Menanggapi pertanyaan anggota Komisi XIII Edison Sitorus mengenai harga pupuk kompos kemasan 3 kg, Agustina menjelaskan bahwa pupuk yang terbuat dari kotoran kelelawar dibanderol seharga Rp 27.000. “Harganya lebih tinggi dari pupuk kohe ayam, sapi dan dan domba karena bahannya terbatas, dan proses mengambilnya susah. Kualitasnya juga sangat baik untuk tanaman ketahanan pangan,” jelas Agustina.

Advertisement

Agustina menambahkan bahwa pupuk buatan napi yang diformulasikan tim akademisi Unsoed ini telah diuji coba pada tanaman kangkung. Hasilnya, tanaman kangkung tumbuh dengan ukuran jumbo. “Untuk pupuk karena untuk tanaman ketahanan pangan, misal kangkung lebih jumbo-jumbo. Kemarin sekali expo (pameran) di Unsoed, (produk BLK Pengolahan Pupuk Organik Nusakambangan) laku 500 kg di Unsoed,” ungkap Agustina.

Produk BLK Pengolahan Pupuk Organik Nusakambangan saat ini dipasarkan secara daring dan lingkup pemesanan masih terbatas pada wilayah Cilacap dan sekitarnya.

Rombongan Komisi XIII DPR RI

Kunjungan kerja ini dipimpin oleh Ketua Komisi XIII Willy Aditya dan Wakil Ketua Komisi Dewi Asmara. Turut mendampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenimipas Mashudi, Kakanwil Ditjenpas Kemenimipas Jateng Mardi Santoso, serta Koordinator UPT Pemasyarakatan Nusakambangan Irfan.

Berikut adalah daftar legislator Komisi XIII yang turut serta dalam kunjungan ke Nusakambangan:

  • Marinus Gea
  • Rapidin Simbolon
  • Maruli Siahaan
  • Prana Putra Soh E
  • Yanuar Arif Wibowo
  • Mafirion
  • Edison Sitorus
  • Raja Faisal
Advertisement