Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dalam kondisi normal sebelum penerbangan terakhir. Tidak ada keluhan teknis yang dilaporkan oleh kru maupun operator.
Kondisi Pesawat dan Riwayat Keluhan
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (20/1/2026). Ia mengonfirmasi bahwa penerbangan dari Jakarta menuju Yogyakarta berjalan lancar tanpa masalah teknis.
“Perlu saya sampaikan di sini bahwa penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta kami sudah mewawancarai teman-teman dari IAT bahwa pesawat dalam kondisi baik, tidak ada keluhan,” ujar Soerjanto.
Soerjanto juga menyinggung adanya keluhan terkait mesin tiga hari sebelum kecelakaan. Namun, ia menegaskan bahwa pada penerbangan terakhir, keluhan tersebut sudah tidak ada.
“Termasuk keluhan masalah engine yang sebelumnya ada 3 hari sebelumnya ada keluhan masalah engine. Ketika penerbangan terakhir tidak ada keluhan,” tambahnya.
Investigasi Pendekatan Pendaratan
Menjelang kedatangan di Makassar, pesawat telah mendapatkan izin untuk melakukan pendekatan pendaratan menggunakan Instrument Landing System (ILS) pada runway 21. KNKT saat ini tengah mendalami alasan penggunaan ILS runway 21.
“Kami juga akan mencari tahu runway in use-nya ketika itu apa alasannya dipakai runway 21. Kami tidak bisa menjawab kenapa tidak runway 13 atau 03 atau yang 31,” jelas Soerjanto.
Ia menambahkan bahwa pemilihan runway in use mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk arah angin, sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus. Namun, alasan pasti pemilihan runway 21 masih dalam investigasi.
Penyimpangan Rute Pendaratan
Prosedur standar pendaratan untuk runway 21 mengharuskan pesawat memulai pendekatan dari titik Araja. Pesawat seharusnya datang dari arah barat lalu bergerak ke utara menuju titik tersebut, diikuti poin Openg, Kabib, dan kemudian panduan sistem pendaratan otomatis (ILS).
Namun, dalam insiden ini, pesawat dilaporkan terlewat dari titik Araja dan tidak menuju poin Openg.
“Jadi di sini pesawat harusnya tadi ke poin Araja tapi dia terlewat. Diminta untuk menuju poin Openg, ternyata juga pesawatnya tidak menuju ke poin Openg. Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya,” ungkap Soerjanto.
Pesawat bahkan terus bergerak tanpa menuju Kabib untuk melakukan intercept localizer, dan akhirnya berbelok ke kanan.
Pengendali lalu lintas udara (ATC) sempat menanyakan apakah pesawat berbelok ke kanan dengan heading 245, sebuah manuver yang diharapkan dapat memotong jalur ILS. Namun, sebelum manuver tersebut selesai, pesawat telah mengalami kecelakaan.
Terrain Awareness and Warning System (TAWS)
KNKT memastikan pesawat dilengkapi dengan Terrain Awareness and Warning System (TAWS). Sistem ini dirancang untuk memberikan peringatan jika pesawat mendekati medan yang tinggi.
“Apakah di pesawat ada alat peringatan untuk gunung? Ada, namanya TAWS (Terrain Awareness and Warning System). Jadi kalau pesawat mendekati gunung, alat itu akan bekerja,” tutur Soerjanto.
Namun, efektivitas kerja sistem TAWS pada saat kejadian masih belum dapat dipastikan dan jawabannya akan ditemukan setelah Black Box ditemukan dan dianalisis.






