Berita

Kisah Tika Wulandari: Dari Pesisir Sederhana, PNM Buka Jalan Kesejahteraan Keluarga

Advertisement

Tika Wulandari, perempuan yang tumbuh di tengah keterbatasan keluarga nelayan di pesisir, kini menjadi bukti nyata bagaimana pemberdayaan dapat mengubah nasib. Ayahnya seorang nelayan yang seringkali pulang tanpa hasil, sementara ibunya, Siti Wartika, membesarkannya dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa kekurangan bukanlah alasan untuk berhenti bersyukur.

Sejak kecil, Tika terbiasa hidup prihatin. Namun, orang tuanya menanamkan nilai pentingnya menjaga nikmat keluarga yang sehat dan tempat berteduh, sekecil apapun itu. Sepulang sekolah, Tika tak segan membantu tetangga mengolah pindang ikan demi menambah uang saku dan biaya makan. Pendidikan agama menjadi prioritas utama orang tuanya, terbukti Tika tetap disekolahkan di SMK pesantren hingga lulus.

Ujian berat datang saat Tika duduk di bangku SMK kelas XI. Angin laut kencang membuat ayahnya melaut berhari-hari tanpa hasil. Beras di gentong habis, ibunya menangis namun tetap tersenyum. “Tidak apa-apa, yang penting Bapak selamat,” ujar sang ibu kala itu. Momen ini menjadi titik balik tekad Tika untuk membantu keluarganya.

Lulus SMK, Tika memilih tidak melanjutkan kuliah demi meringankan beban orang tua dan adiknya. Ia mencari pekerjaan halal hingga akhirnya pada tahun 2019, Tika diterima sebagai Account Officer (AO) Mekaar Panarukan di PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pekerjaannya terasa mulia baginya, memandang setiap nasabah sebagai perempuan tangguh yang berjuang demi keluarga.

Advertisement

Meskipun sempat mendapat kekhawatiran dari ayahnya karena harus bekerja di lapangan, doa orang tua mengantarkannya pada kesempatan baru. Tika kemudian mengikuti seleksi dan lolos menjadi FAO Bungatan, bekerja di kantor sesuai harapan ayahnya. Dari gaji pertamanya, Tika mampu membeli kendaraan sendiri dan perlahan menabung. Tabungannya diberikan kepada ibunya hingga akhirnya keluarga mampu membeli sapi. Puncaknya, pada Desember 2022, tabungan tersebut digunakan untuk membeli sebuah perahu.

Sejak saat itu, ayah Tika tak lagi bergantung pada kapal orang lain. Perahu tersebut kini mampu menghidupi hingga 20 hingga 25 pekerja nelayan. “Semakin saya memberi, semakin banyak rezeki yang Allah titipkan kembali,” ujar Tika.

Tak berhenti di sana, sejak 2022, Tika juga mendapatkan beasiswa pendidikan dari PNM. Di tengah kesibukannya bekerja, ia mendapat kesempatan kuliah S1 secara gratis, sebuah mimpi yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Komitmen PNM dalam Pemberdayaan

Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan kisah Tika mencerminkan komitmen PNM dalam memaknai pemberdayaan secara menyeluruh.

Advertisement